Serunya Ketika Raksasa dan Dewa Khrisna Melintas di Gereja Blenduk

Serunya Ketika Raksasa dan Dewa Khrisna Melintas di Gereja Blenduk

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Minggu, 27 Mar 2016 17:05 WIB
Serunya Ketika Raksasa dan Dewa Khrisna Melintas di Gereja Blenduk
Foto: Angling
Semarang - Pawai ogoh-ogoh yang digelar di Kota Lama hingga Balai Kota Semarang berlangsung meriah. Acara yang menandakan kerukunan umat beragama di ibu kota Provinsi Jawa Tengah ini dibuka oleh pak Haji yang berbusana merah dan Udeng atau ikat kepala khas Bali.

Acara dimulai pukul 15.00 WIB diawali dengan doa dengan cara Agama Hindu dan didampingi oleh pemuka agama lainnya. Arak-arakan diawali oleh tarian dari 13 penari cantik  dan dilepas oleh pak Haji yaitu H. Hendrar Prihadi atau Wali Kota Semarang yang memukul gong pukul 15.30.

"Alhamdulillah PHDI (Parisada Hindu Darma Indonesia)Kota Semarang mengadakan ogoh-ogoh. Ini yang datang luar biasa, harmonisasi beragama terjalin di sini," kata Hendrar di Kota Lama Semarang, Minggu (27/3/2016).

"Selamat hari raya Nyepi untuk saudaraku yang beragama Hindu, dan juga selamat hari Paskah bagi yang menjalaninya, ini momen yang luar biasa," imbuhnya.

Acara Karnaval Seni Budaya Lintas Agama dan Pawai Ogoh-Ogoh yang diselenggarakan oleh Pemkot Semarang bekerja sama dengan PHDI Kota Semarang itu diikuti 1.000 peserta dari berbagai agama tidak hanya umat Hindu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Timnya dari dua pleton anggota Penerbad, ada dari pemuda remaja Hindu, satunya dari pegiat wisata," kata Ketua PHDI Kota Semarang, Nengah Wirta Darmayana.

Ada empat ogoh-ogoh besar yaitu Celuluk, Raksasa, Kasipu, dan Dewa khrisna yang diarak dalam acar bertema "Merajut Harmoni dalam Keberagaman" itu.

Selain itu ada juga dua ogoh-ogoh kecil Hanoman yang dibawa anak-anak di barisan depan. Ada juga karakter wayang orang yaitu Punakawan yang berjalan awal rombongan. Tidak hanya itu, rombongan karnaval diramaikan pula oleh kegiatan dari lintas agama seperti rebana, barongsai, dan arak-arakan miniatur Gereja Blenduk dari stereofoam.

Ribuan warga yang sudah menunggu di Kota Lama dan sepanjang Jalan Pemuda terlihat antusias dan berusaha mengambil foto dengan handphone dan kamera. Arak-arakan dibawa sejauh 2,5 km hingga Balai Kota Semarang di Jalan Pemuda. Selama perjalanan ada juga tari-tarian dari  berbagai daerah. Di Balai Kota, acara ditutup dengan closing art sendra tari yaitu  Garuda Murti.

Acara tersebut menjadi kegiatan menarik yang mengakhiri long weekend para wisatawan yang menghabiskan wisatanya di Kota Semarang kali ini. Hendrar Prihadi atau yang akrab disapa Hendi itu berharap kegiatan serupa bisa kembali digelar tahun depan.

"Semoga ini rutin tahunan. Perputaran ekonomi di sini luar biasa dengan adanya kegiatan seperti ini," tegas Hendi.

Dipilihnya lokasi awal karnaval di Kota Lama juga merupakan salah satu bentuk promosi karena Kota Lama Semarang ditargetkan menjadi salah satu warisan budaya UNESCO pada tahun 2020.
(alg/ega)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads