DetikNews
Kamis 24 Mar 2016, 10:14 WIB

Mengenang Pemikir Muslim Ternama, Ibnu Khaldun

Okta Wiguna - detikNews
Mengenang Pemikir Muslim Ternama, Ibnu Khaldun Foto: Tim Desain detikcom
Jakarta - Mulai dari jalan utama di Tunisia, sekolah di Malaysia, hingga kampus di Bogor memakai nama Ibnu Khaldun. Siapa sebenarnya Ibnu Khaldun?

Ibnu Khaldun dikenal dunia sebagai tokoh intelektual Muslim. Khaldun biasanya dikenang pada hari lahirnya di Tunisia pada 27 Mei 1332 atau saat wafat di Mesir pada pada 19 Maret 1406. Bertepatan pada bulan wafatnya, detikcom akan mengulas sekilas tentang seluk beluk kehidupan Ibnu Khaldun.

Buah pemikiran Khaldun awalnya hanya dikenal di jazirah Arab dan Afrika Utara, namun mulai merambah ke Eropa sejak diterjemahkan ke bahasa Prancis oleh Silvestre de Sacy pada 1806. Bahkan ia dianggap sebagai bapak ilmu sejarah dan sosiologi dunia karena karyanya muncul jauh sebelum pemikir di Barat mengulasnya.

Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia Tiar Anwar Bachtiar mengatakan, buku Mukadimah karya Khaldun dianggap meletakkan dasar pemikitan sosiologi. Mukadimah lahir pada abad ke-14, sementara sosiologi di Eropa berkembang pada abad ke-19.

Ibnu khaldun menyebut apa yang dikenal sebagai sosiologi sebagai ilmul umron, ilmu pengetahuan tentang masyarakat. "Apa yang diajarkan dalam buku mukadimah itu sudah melampaui zamannya," kata Tiar kepada detikcom.

Pemikiran yang melampaui zamannya itu digali Ibnu Khaldun dari pengalaman hidupnya. Lahir di Tunisia, Khaldun ikut keluarganya pindah ke Andalusia.

"Leluhur kami berasal dari Hadramaut," tulis alias Ibnu Khaldun yang bernama lengkap Abu Zayd 'Abd ar-Raḥman ibn Muḥammad ibn Khaldun al-Ḥaḍrami dalam otobiografinya. Hadramaut adalah daerah di Yaman

Berasal dari keluarga terpandang, Ibnu Khaldun bisa belajar Alquran, hadits, syariah, dan fikih dari guru-guru terbaik di Afrika Utara dan Andalusia. Ia juga tercatat terpelajar dalam bidang matematika dan filsafat.

Ibnu Khaldun juga mengikuti jejak keluarga mengabdi pada kesultanan mulai dari Tunisia hingga ke Kesultanan Mamluk di Mesir. Pengalamannya melihat kebangkitan dan kejatuhan kesultanan di jazirah Arab ini terekam dalam karyanya yang paling ternama: Mukadimah.

Mukadimah adalah karya paling populer dari Ibnu Khaldun dan hingga kini buku ini masih laris di berbagai negara. Bahkan CEO Facebook Mark Zuckerberg juga membaca dan terpesona dengan pemikiran Khaldun.

Pakar Islam dan sastra Arab Universitas Yale, Franz Rosenthal yang menerjemahkan Mukadimah ke bahasa Inggris menyanjung Ibnu Khaldun sebagai pemikir yang luar biasa. Rosenthal menulis, ada banyak orang yang menyaksikan sejarah, namun tak semua orang bisa menulisnya seperti Khaldun menyusun buku Mukadimah.

"Dia punya pengalaman politik yang luas dan mampu menganalisisnya," kata Rosenthal. "Dia adalah seorang dengan pemikiran yang cemerlang, yang mengombinasikan aksi dengan pemikiran."

Buku Mukadimah bukan saja bicara soal politik, tapi juga soal ekonomi, sains, dan sejarah. Bahkan karya itu disebut-sebut sebagai salah satu sumber munculnya teori tentang perdagangan dan pajak.

Dianggap sebagai salah satu intelektual Muslim paling ternama, nama Ibnu Khaldun diabadikan menjadi banyak sekolah dan kampus di berbagai negara. Tunisia juga mengabadikannya dalam prangko, mata uang pecahan 10 dinar, dan juga banyak patung.

Apakah Anda pernah membaca Mukadimah? Mari berbagai cerita dan opini Anda soal buku ini di kolom komentar artikel ini.
(okt/ega)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed