Pilgub DKI Diprediksi akan Diikuti Lebih dari 2 Pasangan Calon

Pilgub DKI Diprediksi akan Diikuti Lebih dari 2 Pasangan Calon

Elza Astari Retaduari - detikNews
Kamis, 24 Mar 2016 09:36 WIB
Pilgub DKI Diprediksi akan Diikuti Lebih dari 2 Pasangan Calon
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Bursa calon gubernur DKI Jakarta kian memanas saja. Diprediksi, akan ada lebih dari dua pasangan calon yang akan meramaikan Pilgub DKI 2017 mendatang.

"Ada 3 potensi koalisi. Pertama PDIP yang sebenarnya bisa melaju sendiri atau berkoalisi. Kemudian Gerindra yang hanya punya 15 kursi tapi sangat potensial ajukan kandidat baik DKI 1 atau DKI 2," ungkap pengamat politik Gun Gun Heryanto saat berbincang dengan detikcom, Rabu (23/3/2016) malam.

Untuk bisa mengusung calon sendiri, Gerindra harus menggaet partai lain agar memenuhi syarat batas minimal kursi DPRD. Melihat perkembangan terakhir, Gun Gun melihat Gerindra kemungkinan besar akan mengincar kursi calon gubernur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau lihat kans, ini ada trigger, kemungkinan akan mengajukan DKI 1. Pak Prabowo terlihat sedang memberikan endorse ke Sandiaga Uno, walaupun belum final. Karena Gerindra nggak bisa sendiri, kemungkinan akan persuasi ke PKS, karena chemistry sudah ada sejak 2014. Sangat sulit membaca kalau PKS gabung ke PDIP," jelasnya.

Namun tidak menutup kemungkinan jika PKS membuat poros baru bersama partai-partai tengah lainnya. Kemudian poros tersebut akan mengajukan sendiri calon pasangan cagub untuk Pilgub DKI.

"Itu bisa saja, dengan partai-partai tengah lain. Masih ada Demokrat, PAN, Golkar, PKB, PPP. Hanura dan NasDem lebih ke independen, walau bisa ke parpol tengah, atau dukung Pak Ahok ketika maju dari parpol. Dua itu kan sudah 15 kursi. Bisa ajak PKB karena PKB masih cair dan melihat siapa kandidat yang berpotensi," terang Gun Gun.

Pergerakan partai-partai tengah juga masih belum bisa dipastikan menuju arah mana. Apakah mendukung Ahok sebagai petahana, atau justru mencari lawan tandingnya untuk diusung bersama-sama dalam Pilgub DKI.

"Bisa saja sebagian masuk ke Gerindra atau biuat poros lain, misal ke Yusril atau Lulung. Paling tidak masih mungkin lebih dari 2 pasangan," kata pengamat dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

"Satu dari Ahok lewat jalur independen, terus dari PDIP jika tidak mengusung Ahok, kemudian Gerindra bersama pasangannya. Juga ada kemungkinan dari poros partai lain," sambung Gun Gun.

Dalam Pilgub DKI 2017, faktor figur disebutnya juga cukup berpengaruh. Menurut Gun Gun, ada sejumlah figur yang cukup memiliki peluang untuk dipilih rasional. Hanya saja kelompok figur ini lebih memilih silent.

"Kelompok figur yang silent tapi berprospek, misalnya Ganjar, Risma, masih silent. Padahal belum tentu partai tidak mendukung mereka. Kalau kita baca probabilitas, ini prospek yang lumayan tangguh menghadapi Ahok," tuturnya.

Faktor isu pun juga harus menjadi perhatian. Hingga saat ini, isu terhadap Ahok cenderung leading positif. Namun bukan berarti di depan nanti, mantan Bupati Belitung Timur itu tidak akan terbentur oleh isu-isu negarif. Melalui jalur independen, Ahok diprediksi akan banyak mendapat 'serangan' isu dari sejumlah pihak.

"Sangat mungkin isu-isu strategis yang berbentuk positif dan negatif menurunkan atau meningkatkan citra kandidat.
Misalnya, nggak cuma Ahok, seperti Sandiaga Uno. Kalau landai-landai saja, walau dia citranya lebih santun, ya akan landai-landai saja hasilnya. Tidak akan meningkatkan keterpilihan. Isu-isu misalnya tembakan-tembakan Yusril juga bisa punya pengaruh," tambah Gun Gun.

Untuk wilayah Jakarta, pengaruh media sosial juga dikatakan Gun Gun bisa memiliki dampak yang cukup besar. Apalagi jika para relawan kandidat bergerilya untuk mendapat simpati ataupun menjatuhkan lawan. (elz/imk)


Berita Terkait