Seperti diberitakan sebelumnya, proyek ini merupakan gagasan dari sebuah sekolah menengah atas di kawasan Sumatera Utara yaitu SMAΒ Unggul Del di Laguboti, Sumatera Utara. Eksperimen ini diproyeksikan untuk mempelajari pertumbuhan ragi (yeast) di luar angkasa dalam kondisi near-zero gravity. Eksperimen ini merupakan kerjasama dengan Valley High School(VHS) yang berada di California Amerika Serikat.
Baca Juga: Mendikbud Telekonferensi dengan Siswa yang Eksperimennya Dibawa NASA di Luar Angkasa
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi awalnya kami memilih untuk menumbuhkan mikroalga untuk ke luar angkasa, kenapa alga? itu karena potensi maritim dan energi luar biasa buat Indonesia. Proyek itu diajukan bulan Desember 2015, namun kami gagal untuk sampel alga. Maka kami harus mencari alternatif lain, kami beralih ke ragi roti," ujar Elin Bawakes guru pembimbing penelitian dari SMA Unggul Del saat dihubungi detikcom, Rabu, (23/3/2016).
Baca Juga: Begini Cara Kerja Eksperimen Siswa SMA yang Teliti Ragi di Luar Angkasa
Kendala selanjutnya yang dihadapi oleh para siswa SMA ini untuk menuntaskan proyeknya adalah soal bahan penelitian yang sulit didapat di dalam negeri. Mereka mendapatkan bahan-bahan untuk mendapatkan seperti microchip dan software dari negara seperti Jerman dan Amerika Serikat.
"Kita sampai beli bahan-bahan dari luar negeri, utamanya dari Jerman dan Amerika Serikat. Jadi prosesnya sedikit memakan waktu," tambah dia.
![]() |
Selanjutnya soal biaya yang sangat mahal, bahkan mencapai Rp 1 miliar. Mereka mengaku tidak mendapatkan dana dari pemerintah karena ketika proyek berjalan, Kemendikbud sudah terlanjut tutup anggaran. Mereka memanfaatkan yayasan untuk mencari sponsor dalam menunjang eksperimen ini.
Beberapa hari dari sekarang, para siswa di Laguboti dan di Jakarta/Bandung/Jayapura tersebut akan mulai mengamati dan mencatat hasil eksperimen mereka. Para siswa SMA Indonesia tersebut sudah mendapat undangan untuk mempresentasikan hasil penelitian mereka di Annual Conference of the American Society for Gravitational and Space Research di Washington DC dalam bulan November 2016. (imk/imk)