DetikNews
Kamis 24 Maret 2016, 07:23 WIB

Jika Heli TNI di Poso Tersambar Petir, akan Terlihat Jejak Pada Bodinya

Elza Astari Retaduari - detikNews
Jika Heli TNI di Poso Tersambar Petir, akan Terlihat Jejak Pada Bodinya Foto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo
Jakarta - Helikopter milik Penerbad jenis Bell 412 EP yang membawa 13 prajurit TNI di Poso diprediksi jatuh karena tersambar petir. Jika benar akibat petir, di bodi heli akan tersisa jejak-jejaknya.

"Salah satu cirinya ada lubang-lubang, itu ciri sederhana (jika tersambar petir). Tapi bisa saja sudah terbakar jadi sudah nggak terlihat lubangnya," ungkap Direktur Sarana dan Prasarana Basarnas Marsma SB Supriyadi saat berbincang dengan detikcom, Rabu (23/3/2016) malam.

Supriyadi yang merupakan penerbang Helikopter jenis Puma ini menjelaskan, setiap pesawat pasti memiliki stabilizer. Gunanya adalah untuk menetralisir muatan listrik.

"Untuk kilat, konteksnya harus dilihat. Apakah kilatnya bekerja dari awan ke awan, atau dari awan ke bumi. Arus positif ke negatif, dalam hal ini bumi yang arus negatif," katanya.

Stabilizer sendiri akan dengan mudah menetralisir muatan listrik dari kilat jika kadarnya rendah. Nah, yang sulit adalah ketika kadarnya cukup tinggi.

"Kalau kadar kilat sudah berbentuk api, seperti yang kita lihat di awan mendung, bisa langsung kena ke target. Kalau mengenai target, bagian-bagian yang mudah terbakar akan terbakar," jelasnya.

Jika bodi pesawat terkena percikan api, akan ada tanda tertentu yang tercipta. Itu bisa terlihat pada serpihan-serpihan badan pesawat andai memang masih tersisa.

"(Tandanya) seperti metal kena pasir. Jadi bolong-bolong, kira-kira begitu. Itu bagian yang langsung terbakar, ada bagian yang lubang-lubang. Apakah di serpihan di pesawat ada bagian seperti itu, kalau nggak ada berarti ada penyebab lain. Tapi itu kalau tidak habis terbakar," terang mantan Kepala Pusat Komando Pengendalian Operasi TNI AU itu.

Di daerah Poso, Sulteng, tempat lokasi jatuhnya pesawat disebut Supriyadi merupakan salah satu wilayah yang berpotensi memiliki kilat yang kuat. Penerbang yang pernah bertugas di Skadron 8 Bogor tersebut memprediksi jika benar tersambar petir, jatuhnya heli di Poso itu terkena kilat yang hendak menghantam bumi.

"(Poso) termasuk ada potensi. Tapi kalau dilihat dari intensitas kebiasaaan, tidak seperti di wilayah Bogor, Bogor kan sering. Tapi mungkin bisa terjadi, itu konteks awan mau ke bumi, terus kena pesawatnya," tutur Supriyadi.

"Pasti dia akan terbakar, karena ada minyaknya. Harusnya ada masyarakat yang melihat, biasanya ada saksi. Bahwa memang benar-benar saat kejadian itu memang ada ledakan petir. Waktu petir bergerak kan memecah udara, ada 'jeger' suara ledakan petir," imbuh koordinator di Posko gabungan SAR AirAsia QZ8501 di Pangkalan Bun akhir 2014 lalu itu.

Supriyadi pernah mengalami ketika sedang membawa heli lalu tersambar petir. Beruntung bukan jenis kilat yang dapat membakar bodi pesawat dan masih bisa diterbangkan meski dengan instrumen manual.

"Pernah, memang ada stabilizer tapi instrumen lalu terganggu, apa yang disuplai oleh listrik jadi terganggu. Akhirnya tanpa setrum. Hanya instrumen static, pakai kompas, secara manual. Jadi tidak menggunakan listrik. (Tersambar petir) indikasinya instrumen pesawat terganggu," cerita Supriyadi.

Meski begitu, penyebab pasti kecelakaan yang menewaskan seluruh penumpang dan kru heli di Poso itu disebut Supriyadi masih harus menunggu hasil penyelidikan dari tim investigasi. "Tapi kita lihat tim investigasi bagaimana nanti hasilnya, baru kita tahu apa penyebabnya," ucap dia.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan bahwa penyelidikan penyebab jatuhnya heli akan diserahkan ke TNI bekerja sama dengan KNKT. Plt Subkomite Kecelakaan Penerbangan KNKT Kapten Nurcahyo Utomo saat dikonfirmasi menyatakan belum dihubungi terkait hal tersebut.

Sementara Kadispenad Brigjen TNI Sabrar Fadhilah menyebut bahwa investigasi diserahkan kepada Mabes TNI. Meski begitu, TNI AD juga dilibatkan.

"Tentu ada dari tim ahli kita, dari Puspenerbad," ujar Fadhilah saat dihubungi terpisah.
(elz/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed