ADVERTISEMENT

Menyelamatkan Lokomotif 'Mak Itam', Ganti Onderdil Rusak dengan 'Jeroan' Handmade

Yudhistira Amran Saleh - detikNews
Rabu, 23 Mar 2016 17:19 WIB
Foto: Istimewa
Jakarta - Mak Itam, lokomotif uap yang merupakan salah satu ikon Sawahlunto, Sumatera Barat, masih 'sakit' sehingga tak bisa dioperasikan. Padahal kehadiran kereta tua ini dinantikan masyarakat dan turis. Pemkot berupaya mati-matian menyelamatkan lokomotif tua tersebut.

Perbaikan Mak Itam terpaksa harus menggunakan suku cadang buatan. Sebab, onderdil pabrikan sulit didapatkan. Demikian disampaikan kepala mekanik perbaikan lokomotif uap Mak Itam, Sardini, Rabu (23/3/2016).

Foto: Istimewa

"Sebagian besar onderdil Mak Itam harus diganti. Banyak suku cadang dan onderdil yang harus kami buat sendiri, sebab tidak tersedia lagi di pasaran," ujar Sardini.

Pensiunan PT KAI ini mengungkapkan, perbaikan seharusnya dilakukan Desember 2015. Hanya saja, karena berbagai kendala baru bisa dilakukan sejak Februari 2016. Diperkirakan, perbaikan memakan waktu 15-20 hari.

Foto: Istimewa

Wali Kota Sawahlunto, Ali Yusuf, mengecek perbaikan di depo PT KAI, kawasan Kampung Teleng Sawahlunto, pada Senin (21/3) lalu. Dia berharap perbaikan tidak tertunda lagi, sehingga lokomotif tua itu bisa dipakai lagi setelah 4 tahun 'sakit'.

"Bayangkan saja, dengan kondisi tidak beroperasi, lokomotif uap pengangkut batubara ini masih tetap dicari wisatawan. Apalagi, jika lokomotif ini bisa kembali beroperasi. Rute-rutenya bisa dijadikan paket wisata," kata bapak 3 anak kelahiran 11 Mei 1970 ini.


Foto: Istimewa

Beroperasinya lagi Mak Itam diharapkan bisa mendongkrak jumlah turis. Ali Yusuf menjelaskan, target turis tahun 2015 tidak tercapai. Harusnya 800 ribu, hanya tercapai 780 ribu.

Mak Itam merupakan lokomotif buatan Hartamann Chemnitz asal Jerman dan dibawa dari Museum Ambarawa, Kabupaten Semarang ke Sawahlunto pada tahun 2008. Lokomotif bernomor E 1060 ini berada di puncak kejayaan pada abad ke-19. Saat itu, Sawahlunto merupakan pusat tambang. Tak heran, kini kota kecil di Sumbar ini bertagline 'Kota Wisata Tambang yang Berbudaya'.

(yds/trw)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT