TKI dan Saemaul Undong

Anyonghaseo (6)

TKI dan Saemaul Undong

M Aji Surya - detikNews
Selasa, 22 Mar 2016 10:14 WIB
TKI dan Saemaul Undong
Foto: Istimewa
Seoul - Anyonghaseo. Pernahkah bertanya, mengapa di luar negeri  tidak ada Indonesian town padahal sangat banyak China town? Pertanyaan ini sangat relevan di tengah jutaan warga Indonesia yang bermukim di negeri asing. Toh, sejak lahir, manusia Indonesia sudah dikenalkan dengan budaya gotong royong hingga soal ketuhanan. Nilai-nilai luhur yang top markotop.

Kalau boleh jujur, berdasarkan beberapa kali pengamatan saya di banyak negara, nilai-nilai komunalitas itu kadang hilang ditelan awan manakala warga Indonesia berkumpul. Mereka suka arisan, tapi hatinya tidak menyatu. Mereka bukan hanya berkompetisi, tapi saling menjegal. Komunalitas yang diagungkan saat di kampung tiba-tiba enyah entah kemana.

Uniknya banyak WNI sering komplain, mengapa ribuan orang Indonesia di satu wilayah di luar negeri tidak mampu membangun satupun toko Indonesia, misalnya. Masalah aturankah? Atau sebenarnya soal mentalitas? Lebih unik lagi, si penanya tadi lupa koreksi diri, apakah yang bersangkutan sudah menyatu dengan yang lain atau hanya sekedar kumpul tanpa makna.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

TKI berprestasi (Foto: M Aji Surya/detikcom)

Sedikit lain dengan yang terjadi di Korea Selatan. Yang saya lihat lumayan wow, meskipun juga belum wow banget. Komunitas masyarakat Indonesia di Korea ini umumnya pekerja yang berjumlah hampir 40 ribu jiwa. Rata-rata lulusan SMA atau pada kisaran umur 20-30an tahun. Asalnya bukan dari kota besar seperti Jakarta, tapi wong ndeso dan wong gunung.

Kelompok pekerja ini banyak melakukan kegiatan komunal yang mirip dengan konsep Saemaul Undong yang dicetuskan oleh Presiden Korsel Park Chung-Hee. Artinya mereka berkumpul untuk melakukan "benah diri", untuk mengejar kemajuan. Kerjasama tersebut diwadahi oleh organisasi kedaerahan, keagamaan ataupun umum.

Jadi jangan heran kalau di negeri ginseng ada 70-an paguyuban kedaerahan, 50an kelompok masjid dan Musholla dan 17an kelompok gereja. Masih ada beberapa organisasi non primordial seperti Indonesia Community Center, Dompet Duafa dan lainnya.

Foto: M Aji Surya/detikcom

Melalui pengelompokan inilah mereka melakukan "benah diri" menuju masa depan yang lebih baik. Tidak hanya sekedar arisan sederhana, mereka rutin mendatangkan motivator ternama, dai kondang, penyanyi berkelas hingga menyelenggarakan Universitas Terbuka yang menginduk Jakarta. Bahkan, untuk saling tolong menolong antar mereka, sepertinya uang itu mengalir seperti aliran sungai Bengawan Solo, kalem tapi deras.

Tidak hanya itu, urusan bagaimana membangun diri pasca jadi TKI sudah terpikirkan. Banyak diantara mereka yang sudah siapkan usaha dari jarak jauh. Mulai buka warung sampai model supermarket modern. Mulai jualan telor asin hingga membuat pabrik batako. Ada mindset untuk maju.

Karenanya saya sepenuhnya setuju ide agar TKI di Korsel ini diperhatikan oleh Presiden Jokowi dengan baik. Harus dijadikan model TKI teladan. Mereka kalau pulang bukan lagi jadi beban masyarakat namun menjadi solusi masalah ekonomi. Semangat saemaul undong yang sudah mendunia Itu harus tetap dijaga dan disinergikan dengan gotong royong. (try/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads