Dirut WWF Indonesia Efransyah pun mengungkap soal mitos cula badak itu. Menurut dia, cula badak sejatinya tak memiliki fungsi dan khasiat apapun.
"Kula badak itu nggak berkhasiat apa-apa," jelas dia di Gedung Manggala Wanabhakti, Jakarta di sela-sela acara Hari Hutan, Senin (21/3/2016).
Menurut dia, biasanya oleh orang tak bertanggung jawab cula badak itu dijadikan tepung dan banyak dipasarkan di Hong Kong. Kemudian digunakan untuk bermacam pengobatan. termasuk obat kuat.
Karena mitos yang dipercayai segelintir orang itu, badak diburu karena culanya. Dan populasi badak juga semakin terbatas. "Penelitian menunjukan cula badak isinya keratin, nggak ada apa-apanya," imbuh dia.
Efransyah mengharapkan peran serta Kementerian LHK dan civil society dalam menjaga dan melestarikan badak serta lingkungannya. (dra/dra)











































