Hari Hutan Internasional, Menteri Siti: Hutan Penopang Kehidupan

Hari Hutan Internasional, Menteri Siti: Hutan Penopang Kehidupan

Yulida Medistiara - detikNews
Senin, 21 Mar 2016 16:58 WIB
Hari Hutan Internasional, Menteri Siti: Hutan Penopang Kehidupan
Foto: Bagus Prihantoro Nugroho/detikcom
Jakarta - Hari Hutan Internasional (HHI) 2016 diperingati hari ini, Senin (21/3). Menteri Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyebut hutan sebagai penopang kehidupan.

"Saya ingin katakan, dalam perayaan Hari Hutan Internasional, kita secara internasional perspektif kepentingan dunia kita sudah posisikan hutan sebagai penopang kehidupan yang sangat penting," ujar Menteri Siti Nurbaya di kantornya, Jl Gatot Subroto, Senin (21/3/2016).

Dalam peringatan HHI 2016, Menteri Siti mengatakan hutan memiliki peran strategis untuk menopang kehidupan yang harus diwujudkan dalam pengelolaan yang baik, berwawasan lingkungan. Serta keseimbangan antara konservasi dan ekonomi untuk mendorong kemandirian energi dan kedaulatan pangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adanya hutan sangat berpengaruh pada lingkungan hidup di Indonesia maupun di lingkup global, mengingat secara luas hutan tropis Indonesia berada di urutan nomor 3 di dunia. Menhut Siti mengatakan, menyelamatkan hutan alam tropis lebih efektif dibandingkan hutan di wilayah non tropika karena banyak terdapat kekayaan hayati yang tinggi.

Acara ini juga dihadiri perwakilan dari WWF Effransyah dan praktisi Kehutanan lainnya. Peringatan HHI tahun ini diusung dengan tema membangun hutan dan lingkungan untuk ketersediaan udara dan air bersih. Siti menyebut saat ini Kementerian LHK mengurusi bagian hulu misalnya dengan reboisasi untuk membuat mata air.

"Jadi memang bukan hanya teori tapi fakta di lapangan kalau kita tanam pohon yang baik itu mata airnya jadi," kata Siti.

Selain ketersediaan air, ada juga fauna-fauna yang bergantung dengan hutan sehingga kalau ekosistem hutan baik maka bisa menjasi rumah bagi tanaman dan satwa liar. Sebagai contoh, Badak Sumatera ditemukan di Kalimantan adalah salah satu contoh tersisanya satwa langka di dalam hutan yang masih baik.

Oleh karena itu Menhut Siti masih punya pekerjaan rumah untuk melakukan perbaikan hutan. Ia menyebut akam memperbaiki tata kehutanan Indonesia dengan mendorong di tingkat tapak (KPH), lembaga itu sudah ada di daerah.

Lalu, upaya dalam mengatasi deforestasi dan degradasi hutan terutama untuk mencegah kebakaran hutan."Koreksi keberpihakan, tekankan aspek konservasi nyata dan keterlibatan masyarakat. Yang di lapangan juga disesuaikan dalam hal penghijauan," kata Siti.

Terkait penegakan hukum pada pelanggar dan pelaku pembakaran hutan atau pembalakan liar akan ditindak tegas. Saat ini Siti menyebut data hingga tanggal 14 Maret kemarin jumlah pelaku pembakar hutan yang diamankan ada  41 di Riau, di Jambi ada 10, di Sumsel ada 9, dan Kalbar ada 4. (rvk/rvk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads