Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irjen Pol Tito Karnavian menyebut, Indonesia menjadi salah satu tujuan WN China etnik Uighur sebagai tempat untuk melakukan pelatihan militer.
"Di Asia Tenggara saya kira salah satu kelompok yang terpenting yang jaringannya cukup luas terutama di Indonesia. Kemudian kelompok-kelompok yang dari Uighur ini sebetulnya aslinya mereka adalah kelompok yang ingin separatis, yang ingin merdeka di China sana," jelas Irjen Tito kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (20/3/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Maka mereka memanfaatkan jaringan itu untuk kepentingan mereka, baik dalam rangka untuk separatisme mereka, kemerdekaan atau otonomi, atau yang kedua untuk membentuk kekhalifahan global. Tapi saya kira yang utama yang nomor satu (separatisme)," jelasnya.
Untuk mencapai tujuan mereka itu, sehingga sejumlah WN Uighur bergabung dengan kelompok Santoso yang dianggap memiliki jaringan cukup kuat di Asia Tenggara.
"Sehingga tidak heran ketika tokoh-tokoh ISIS yang ada di Syiria, baik yang dari Indonesia maupun Uighur mereka bisa bergabung di sana, mereka berkomunikasi, berinteraksi sehingga dapat membentuk jaringan global, dan mereka bisa menggerakan jaringan mereka di negara masing-masing untuk berkoneksi juga," paparnya.
Sama halnya dengan ISIS, kelompok separatis etnis Uighur ini membentuk kelompok radikal untuk kemudian membentuk kekhalifahan di dunia.
"Itulah yang mengakibatkan kelompok-kelompok Uighur yang dianggaplah kaum separatis di China, mereka memanfaatkan jaringan di Indonesia untuk bersembunyi, berlatih, maupun tempat berjihad," katanya.
Sejauh ini, sudah ada sejumlah WN Uighur yang terpantau masuk ke dalam jaringan Santoso.
"Selama ini sudah tertangkap sudah ada empat, lima. Empat yang dulu tahun 2014, divonis. Kemudian ada satu yang ada di Bekasi, dan kemarin dua yang tertembak di Poso kemarin. Enggak ada (WN lain) yang baru kita monitor dari kelompok WN Uighur," tutupnya. (mei/hri)











































