Kepala BNPT: WN Uighur Manfaatkan Kelompok Santoso untuk Berjihad

Kepala BNPT: WN Uighur Manfaatkan Kelompok Santoso untuk Berjihad

Mei Amelia R - detikNews
Senin, 21 Mar 2016 15:06 WIB
Kepala BNPT: WN Uighur Manfaatkan Kelompok Santoso untuk Berjihad
Kepala BNPT Irjen Tito Karnavian (Foto: Rini Friastuti/detikFoto)
Jakarta - Kemunculan WN China etnik Uighur di kelompok teroris jaringan Abu Wardah alias Santoso disinyalir sudah ada selama beberapa tahun ke belakang. Lalu apa keterlibatan dan tujuan kelompok tersebut bergabung dengan kelompok Santoso?

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irjen Pol Tito Karnavian menyebut, Indonesia menjadi salah satu tujuan WN China etnik Uighur sebagai tempat untuk melakukan pelatihan militer.

"Di Asia Tenggara saya kira salah satu kelompok yang terpenting yang jaringannya cukup luas terutama di Indonesia. Kemudian kelompok-kelompok yang dari Uighur ini sebetulnya aslinya mereka adalah kelompok yang ingin separatis, yang ingin merdeka di China sana," jelas Irjen Tito kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (20/3/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tetapi, lanjut Tito, banyak hal yang berbeda mulai dari ras dan agama, etnis Uighur yang mayoritar beragama Islam ini memanfaatkan situasi global dengan kemunculan jaringan ISIS.

"Maka mereka memanfaatkan jaringan itu untuk kepentingan mereka, baik dalam rangka untuk separatisme mereka, kemerdekaan atau otonomi, atau yang kedua untuk membentuk kekhalifahan global. Tapi saya kira yang utama yang nomor satu (separatisme)," jelasnya.

Untuk mencapai tujuan mereka itu, sehingga sejumlah WN Uighur bergabung dengan kelompok Santoso yang dianggap memiliki jaringan cukup kuat di Asia Tenggara.

"Sehingga tidak heran ketika tokoh-tokoh ISIS yang ada di Syiria, baik yang dari Indonesia maupun Uighur mereka bisa bergabung di sana, mereka berkomunikasi, berinteraksi sehingga dapat membentuk jaringan global, dan mereka bisa menggerakan jaringan mereka di negara masing-masing untuk berkoneksi juga," paparnya.

Sama halnya dengan ISIS, kelompok separatis etnis Uighur ini membentuk kelompok radikal untuk kemudian membentuk kekhalifahan di dunia.

"Itulah yang mengakibatkan kelompok-kelompok Uighur yang dianggaplah kaum separatis di China, mereka memanfaatkan jaringan di Indonesia untuk bersembunyi, berlatih, maupun tempat berjihad," katanya.

Sejauh ini, sudah ada sejumlah WN Uighur yang terpantau masuk ke dalam jaringan Santoso.

"Selama ini sudah tertangkap sudah ada empat, lima. Empat yang dulu tahun 2014, divonis. Kemudian ada satu yang ada di Bekasi, dan kemarin dua yang tertembak di Poso kemarin. Enggak ada (WN lain) yang baru kita monitor dari kelompok WN Uighur," tutupnya. (mei/hri)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads