Kisah Ahok-Djarot dan Arti Kesetiaan

Kisah Ahok-Djarot dan Arti Kesetiaan

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Senin, 21 Mar 2016 11:14 WIB
Kisah Ahok-Djarot dan Arti Kesetiaan
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Keinginan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) meminang Djarot Syaiful Hidayat sebagai cawagubnya di Pilgub DKI Jakarta bertepuk sebelah tangan. Keduanya kini meniti jalan yang berbeda.

Ahok menghormati segala keputusan PDIP yang tak melepas Djarot untuk berduet dengan Ahok di Pilkada DKI 2017. Ahok kemudian mantap maju melalui jalur independen.

Sedangkan Djarot masih menunggu sinyal dari PDIP tentang cagub dan cawagub DKI Jakarta 2017. Dia lebih konsentrasi menghabiskan sisa masa kepemimpinannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beda jalan Ahok dan Djarot tidak lantas membuat hubungan keduanya renggang. Komunikasi terus dijalin demi menyelesaikan segala permasalahan pelik Ibu Kota. Djarot memastikan tidak ada benturan dengan Ahok. Dia mengaku tetap solid dan setia.

Berikut kisah Ahok dan Djarot:

1. Bertepuk Sebelah Tangan

Foto: Ari Saputra
'Cinta' Ahok ke PDIP bak bertepuk sebelah tangan setelah PDIP tak melepas Djarot untuk berduet dengan Ahok di Pilkada DKI 2017.

"Kalau cinta bertepuk sebelah tangan ya bukan salah saya dong," ucap Ahok santai di RPTRA Pulo Gundul, Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, Kamis (17/3/2016).

Namun demikian, Ahok tak kecewa dengan keputusan PDIP yang tak bisa mendukungnya di Pilgub DKI 2017. Bahkan Ahok menyatakan sebaliknya.

"Aku sih enggak pernah kecewa sama mereka (PDIP). Aku masih sayang sama mereka kok," kata Ahok.

Kini justru Djarot-lah yang digadang-gadang menjadi cagub dari PDIP. Ahok mempersilakan saja Wakil Gubernur DKI itu menentukan pilihan. Hubungan profesional dalam memerintah DKI tak terganggu.

2. Tidak Ada Benturan dan Setia

Foto: Ari Saputra
Djarot menegaskan komunikasinya dengan Ahok terhadap program pemerintahan ibukota terus berjalan.

Menurutnya, tak ada benturan dan terpecah karena isu pemilihan Gubernur DKI tahun depan. Sebagai wakil gubernur, Djarot sadar posisinya karena diminta Ahok.

"Yang meminta saya mendampingi itu Pak Ahok. Itu meminta kepada ketua umum. Kemudian, saya mendapatkan rekomendasi dari partai. Maka saya juga harus setia kepada partai. Saya juga setia pada Pak Ahok. Iya toh. Enggak mungkin dong, kita berbenturan dengan pak Ahok," kata Djarot di sela pengukuhan pengurus ranting se Jakarta Barat, di GOR Grogol, Minggu (20/3/2016).

Menurutnya, keharmonisan menjadi wakil gubernur harus dijaga sampai masa tugas selesai. Secara etika dan moral, hal ini yang menjadi pola pikirnya. "Karena dia (Ahok, red) yang meminta kita kok. Ya kan. Itu etika, moral. Moral pemerintahan. Tidak boleh terpecah dan mengadu satu sama lain," tuturnya.

Bagi Djarot, soal namanya masuk bursa cagub DKI diserahkan ke mekanisme PDIP. Ia tak ingin berandai-andai bila namanya diajukan partai atau tidak. Saat ini, diingatkannya yang terpenting adalah komitmen menjaga pemerintahan hingga masa bakti 2017.

"Saat ini tetap setia dengan Pak Ahok ya, harus mendampingi beliau, memastikan semua program Pemprov DKI itu berjalan dengan baik. Sesuai komitmen kita ini kita tuntaskan sampai 2017. Jadi, gak papa," sebut eks Walikota Blitar itu.

3. Teman Ahok dan Sahabat Djarot

Foto: Hasan Alhabshy
Ahok didukung Teman Ahok. Sedangkan Djarot diusung Sahabat Djarot.

Teman Ahok menargetkan mengumpulkan KTP buat modal Ahok maju independen. Selain didukung Teman Ahok, sejumlah partai dan komunitas lainnya juga memberikan dukungan kepada Ahok.

Sementara itu Djarot didukung kelompok Sahabat Djarot. Tetapi, Djarot masih enggan memikirkan tentang pencalonannya di Pilgub mendatangan.

"Belum. Belum pernah dia ngomong (ke saya) untuk nyalonkan saya. Partai (PDIP) juga belum," kata Djarot sebelum acara pengukuhan pengurus ranting Jakarta Barat, di GOR Grogol, Jakarta Barat, Minggu (20/3/2016).

Dia menambahkan bila kemunculan Sahabat Djarot ini tak bisa dilarang. Meski mengaku belumΒ  berkomunikasi, Djarot hanya mengetahui bila Sahabat Djarot ini tak bekerja untuk mengumpulkan KTP. "Biarin saja, mungkin mereka (Sahabat Djarot, red) berimprovisasi. Dan, silakan saja. Semua warga negara kan berhak untuk seperti itu kan ya. Tetapi kan apa ya, kita kan tidak mengumpulkan KTP ya? Iya kan, nggak kumpulkan KTP. Masa dilarang-larang anak-anak muda itu. Biar saja," tuturnya.
Halaman 2 dari 4
(aan/tor)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads