Ke Mesir, Risma Cerita Soal Sosok Pemimpin dan Penutupan Gang Dolly

Ke Mesir, Risma Cerita Soal Sosok Pemimpin dan Penutupan Gang Dolly

Rivki - detikNews
Sabtu, 19 Mar 2016 16:50 WIB
Ke Mesir, Risma Cerita Soal Sosok Pemimpin dan Penutupan Gang Dolly
Foto: KBRI Kairo
Jakarta - Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini berkunjung ke Kairo, Mesir. Risma sedianya akan menerima Ideal Mother Award yang diadakan oleh ISESCO (Islamic Educational Scientific and Ciltural Organization). Di sela kunjungannya, Risma sempat memberikan ceramah tentang kepemimpinan pada Dialog Kebangsaan yang diadakan KBRI Kairo.

Dalam siaran pers kepada detikcom, Sabtu (19/3/2016), KBRI Kairo bekerjasama dengan Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir mengadakan dialog tersebut pada Jumat (18/3). Dalam dialog tersebut Risma bercerita salah satunya soal Dolly.



SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Acara tersebut digelar di auditorium Saleh Kamel, Nasr City, Cairo. Acara dialog itu dihadiri ribuan mahasiswa Indonesia yang belajar di Mesir. Lauti Nia Sutedja, Kepala Fungsi Pensosbud/ Act. Atase Pendidikan KBRI Cairo dalam sambutannya menympaikan, bahwa kunjungan Wali kota Surabaya ini sengaja dimanfaatkan oleh KBRI Kairo untuk berbagi pengalaman seorang sosok pemimpin yang dinilai berhasil membangun kota Surabaya kepada mahasiswa Indonesia yang belajar di Mesir.

Risma, dalam paparannya menjelaskan sejumlah teori kepemimpinan serta pengalamannya dalam memimpin kota Surabaya dan upaya yang telah dia lakukan dalam membangun kota ini.Β  Menurut Risma, kepemimpinan tidak boleh diminta dan merupakan beban dan amanah yang pertanggungjawabannya bukan hanya di hadapan rakyat, tapi juga di hadapan Tuhan kelak di hari kiamat. Seorang pemimpin harus ikhlas dan tulus dalam memperjuangkan nasib masyarakat, karena pemimpin adalah pelayan.

Risma menyatakan bahwa di Surabaya ketika pejabat ditanya "Anda siapa?", setiap pejabat akan menjawab pelayan masyarakat. Kalau ada pejabat Surabaya yang minta dilayani, ia menyatakan bahwa dirinya akan menindak yang bersangkutan.

Selanjutnya, Risma menceritakan sejumlah program pembangunan yang telah dilakukannya di kota Surabaya baik pembangunan fisik maupun non fisik. Diantara pembangunan yang ia bangun adalah infrastruktur, taman, pusat usaha dan pertanian, pusat rehabilitasi, fasilitas bagi anak yatim, orang jompo dan anak-anak berkebutuhan khusus serta mengubah pusat proatistusi menjadi kompleks usaha.

Diceritakan juga terkait sejumlah kebijakan berani yang ia lakukan seperti penutupan lokalisasi Dolly dan sejumlah lokalisasi lainnya, yang menurutnya sempat mengancam nyawanya. Ia juga menceritakan sejumlah pengalamannya saat terjun ke lapangan dan menyelesaikan sendiri permasalahan yang terjadi di kota Surabaya seperti menyelesaikan masalah macet, banjir dan kebersihan.

Sedangkan penbangunan nonfisik yang telah dilakukannya antara lain program rehabilitasi terhadap wanita tuna susila, anak jalanan, orang gila, menertibkan para pengamen dengan memberi mereka panggung khusus dan bayaran sebesar Rp 2 juta setiap kali tampil. Disampaikan pula bahwa belasan ribu anak yatim dan lansia yang diberi makan oleh Pemkot Surabaya setiap hari.

Melalui forum tersebut Risma mengingatkan mahasiswa Indonesia di luar negeri agar tidak mengedepankan semangat kedaerahan dan kesukuan, namun yang dikedepankan adalah semangat persatuan dan keindonesiaan. Dalam sesi dialog, Risma menegaskan bahwa mahasiswa yang sudah mengecap pendidikan di luar negeri seyogyanya juga pandai mencari peluang atau menciptakan lapangan kerja dan tidak hanya berharap pada fasilitas pekerjaan dari pemerintah.

Terakhir, Risma menyampaikan bahwa seorang pemimpin harus mengedepankan kepentingan masyarakat atas kepentingan pribadi dan golongan. (rvk/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads