Mencari pedesaan di Korea Selatan yang papa, miskin tanpa penerangan bak pekerjaan mencari jarum di tumpukan jerami. Sepanjang tol dari Seoul ke Daegu yang berjarak 350 km tidak terlihat apa yang kita sebut pedesaan. Semua mirip. Apartemen di Seoul juga tidak beda dengan apartemen di kota kecil. Bahkan memasuki kota manapun nyaris tidak bertemu pengemis. Kemakmuran sudah demikian merata.
Konon, di tahun 1960 hingga mendekati tahun 1970, kemiskinan di Korea begitu merunyak. Justru sangat sulit melihat kemajuan. Jangankan jalan tol, jalan biasa pun bikin banyak mobil terseok. Belum lagi, kabarnya, waktu itu rakyatnya relatif tidak rajin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Park bersama rakyat (Foto: House of Park Chung-hee) |
Melihat hal yang demikian, pemerintah Korea di bawah Presiden Park Chung Hee (1970) menelorkan sebuah konsep pembangunan yang dinamakan saemaul undong yang berarti pergerakan masyarakat pedesaan. Mereka harus saling bahu membahu untuk bisa bangun mengejar ketertinggalan dari daerah lain yang lebih maju.
Dalam konsep ini, Presiden Park memberikan bantuan yang sama kepada semua wilayah tertinggal. Dana yang ada dikelola seefisien mungkin. Bagi daerah yang maju maka akan diberikan insentif tambahan. Dengan demikian maka terjadi kompetisi saling mengejar untuk membangun.
Hebatnya, konsep ini dijalankan secara konsekuen dan dibarengi dengan disiplin serta kebangsaan yang tinggi sehingga hasilnya cepat nyata. Saemaul Undong ini kemudian dijadikan PBB sebagai konsep memajukan wilayah tertinggal di dunia.
Sebenarnya, Indonesia juga memiliki konsep saemaul undong yang usianya jauh lebih tua, yakni gotong royong. Kita semua percaya bahwa gotong royong merupakan cara hidup komunal di alam pedesaan. Saling bahu membahu untuk menciptakan kemajuan.
Suasana pedesaan di lereng gunung (Foto: M Aji Surya/detikcom) |
Tampaknya, antara Indonesia dan Korea Selatan memiliki banyak kemiripan. Keduanya berkembang pada saat yang sama dengan konsep pembangunan yang mirip. Dalam hal ini, mungkin yang kurang dari kita adalah disiplin dan kreasi pengembangan ide. Selain itu, kebangsaan Korea sudah selesai sejak lama karena adanya ancaman dari utara, sedangkan di Indonesia masih ada saja yang mempertanyakan pentingnya membangun Indonesia secara berjamaah.
Saya lihat sendiri, WNI pekerja di Korea yang jumlahnya 35 ribuan itu, mengamalkan saemaul undong dan gotong royong. Begitu ada masalah, mereka coba selesaikan sendiri, bahkan rela iuran hingga puluhan juta rupiah. Manakala belum beres, mereka baru menggandeng Pemerintah. Dengan model kerjasama semacam ini semua masalah menjadi relatif lebih mudah diurai dan dibereskan.
Masalahnya, bagaimana pelaksanaan gotong royong itu bukan hanya jadi solusi. Tetapi diramu sedemikian rupa sehingga menjadi kendaraan bagi kemajuan. Sebab, sekedar bangga atas warisan leluhur saja pasti tidak banyak artinya. (try/try)












































Presiden Park bersama rakyat (Foto: House of Park Chung-hee)
Suasana pedesaan di lereng gunung (Foto: M Aji Surya/detikcom)