Ilmuwan Jepang Teliti Hutan di Riau, ini Temuan Mereka soal Keragaman Flora

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Kamis, 17 Mar 2016 11:52 WIB
Foto: Chaidir Anwar T/detikcom
Siak - Hutan tropis di wilayah Asia Tenggara seiring waktu terus berkurang. Sejumlah ilmuwan dari Universitas Kyushu Jepang melakukan penelitian di Indonesia.

Lokasi penelitian itu di kawasan hutan sekunder di arboretum PT Indah Kiat Pulp and Paper di Kabupaten Siak Riau. Hutan seluas 170 hektare itu sudah sepekan ini dijelajahi para ilmuwan Jepang. Mereka meneliti keanekaragaman hayati yang ada di Riau. Kawasan hutan ini berada di tengah-tengah konsesi hutan tanaman industri milik perusahaan bubur kertas itu.

Sebelum ke Riau, mereka lebih dulu menjelajah di hutan Sumatera Barat (Sumbar) dan di Kalimantan. Sebelum ke Indonesia, mereka juga melakukan penelitian di Serawak dan Sabah, Malaysia

Foto: Chaidir AT/detikcom

Mereka melakukan penelitian hutan tropis ini, tak terlepas menyusutkan kawasan hutan alam di wilayah Asia Tenggara. Penyusutan itu secara otomatis juga menghilangnya keanekaragaman hayati.

Pantauan di lokasi, ada 6  tim peneliti yang terdiri dari ilmuwan dan satu mahasiswa. Ada satu mahasiswi yang ikut dalam penelitian itu. Mereka masuk dalam kawasan hutan sejak pagi dan akan berakhir pada pukul 16.00 WIB.

Mereka selama 8 jam diselingi istirahat 30 menit, mengitari kawasan hutan tersebut. Peneliti ini mengumpulkan sejumlah dedaunan dari sejumlah pohon. Baik dalam ukuran pohon kecil, sampai pohon yang menjulang tinggi hingga ukuran 20 meter. Satu per satu, dedaunan itu mereka kumpulkan dan disusun rapi dalam liputan koran bekas.

Foto: Chaidir AT/detikcom

"Tujuan kami meneliti, karena saat ini luasan hutan tropis terus berkurang. Dengan demikian banyak jenis spesies tumbuhan juga hilang. Karena itu, kami ingin mengidentifikasi keanekaragaman hayati," kata ahli botani dan taksonomi Universitas Kyushu, Prof. Dr. Tetsukazu Yahara detikcom, Rabu (16/3/2016).

Dari hasil penelitian sepekan ini, menurut Tetsukazu, mereka selalu menggunakan ukuran setiap 100 meter. Setiap satu ukuran itu masih ditemukan keanekaragaman hayati yang cukup tinggi.

"Di kawasan hutan ini, dalam jarak 100 meter kami masih menemukan sekitar 300 spesies tanaman yang berbeda. Tapi kami juga menemukan sekitar 20 spesies yang kemungkinan adalah spesies baru. Untuk membuktikan apakah ini benar-benar baru, kita akan lakukan penelitian lagi," kata Tetsukazu.

Foto: Chaidir AT/detikcom

Menurutnya, dari hasil penelitian sementara ini, hutan tropis di Riau kondisi keanekaragaman hayati tidak jauh beda dengan di Serawak dan Sabah di Malaysia.

"Dari penelitian kami, kawasan hutan di Riau tak jauh beda dengan di Malaysia," kata Tetsukazu.

Menurut Prof Tesukazu, kawasan hutan alam yang ada di tengah-tengah hutan tanaman industri milik perusahaan Group Sinar Mas ini harus diperluas lagi. Dengan demikian perlindungan keanekaragaman hayati di kawasan konservasi bisa tetap terjaga dengan baik.

Sejumlah hasil penelitian dedaunan yang mereka kumpulkan, akan di bawa ke Jakarta tepatnya ke LIPI. Dari sana pihak peneliti akan meminta izin untuk dilakukan penelitian di Jepang.

"Setelah selesai nanti, kita akan berkoordinasi kembali dengan LIPI. Sejumlah dedaunan yang kita kumpulkan akan kami teliti kembali di Jepang," katanya.

Foto: Chaidir AT/detikcom

Sementara itu, Chairman Asia Pulp & Paper (APP) Jepang, Tan Ui Sian, menyatakan pihaknya sudah beberapa kali bekerja sama dengan kalangan akademisi di Jepang, mulai dari pelestarian lingkungan berupa program penanaman pohon hingga di bidang penelitian.

Lokasi arboretum merupakan bagian dari konsesi perusahaan yang dibiarkan alami sebagai tempat berbagai flora dan fauna untuk tujuan penelitian atau pendidikan serta konservasi.

"Kami menyambut baik hal ini, kepercayaan untuk melakukan penelitian di kawasan hutan lindung kami dari akademisi Jepang mengangkat nilai kepercayaan pihak luar bukan hanya bagi kami APP-Sinar Mas semata, namun bagi Indonesia pada umumnya," kata Tan Ui Sian. (cha/trw)