Nofi ditangkap dalam kondisi teler atau terpengaruh narkoba jenis sabu di rumah pribadinya di Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (13/3/2016). Pengaruh sabu masih terlihat hingga Senin (14/3), bahkan ketika dia dihadirkan saat jumpa pers di BNN, Cawang, Jakarta.
Nofi yang berusia 27 tahun dan berharta Rp 20 miliar ini diduga kuat memakai narkoba sejak lama. BNN sudah mengincarnya sejak tiga bulan lalu, sebelum proses pemilihan Pilkada. Kecurigaan pun muncul pada proses pemeriksaan tes narkoba di KPU saat pendaftaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setiap kepala daerah harus diperiksa urine, darah, diperiksa rambut. Supaya pasti, kepala daerah bisa bebas dari hal seperti ini," kata Buwas dalam konferensi pers kemarin.
Menurut Buwas, kecenderungan pengguna tidak akan mengakui berapa lama memakai narkoba. Biasanya, mereka akan mengelak. Apalagi orang dengan posisi dan jabatan tertentu. Meski begitu, BNN tidak hilang akal. Pemeriksaan ilmiah bisa membuktikannya.
"Kalau di rambut kelihatan, lebih dari 3 bulan kelihatan," kata Buwas.
Buwas menegakan, ada kepala daerah lain yang diduga memakai narkoba. BNN serius melakukan pemantauan terhadap mereka. Dia tidak gentar, meski harus menghadapi risiko tekanan dari partai politik pengusungnya.
"Tidak ada tekanan politik, cuma tekanan dari wartawan ada," ucapnya berkelakar. (mad/mad)











































