Berkaca dari Kasus Bupati Nofi, Semua Kepala Daerah Wajib Rutin Tes Narkoba

Bupati Ditangkap BNN

Berkaca dari Kasus Bupati Nofi, Semua Kepala Daerah Wajib Rutin Tes Narkoba

Wisnu Prasetiyo - detikNews
Selasa, 15 Mar 2016 15:04 WIB
Berkaca dari Kasus Bupati Nofi, Semua Kepala Daerah Wajib Rutin Tes Narkoba
Foto: Ilustrasi oleh Zaki Alfarabi
Jakarta - Kasus Bupati Ogan Ilir Sumatera Selatan Ahmad Wazir Nofiadi menjadi bukti nyata bahaya narkoba sudah menyerang berbagai kalangan. Karena itu, jangan sampai ada kejadian yang sama di tempat lain. Pemeriksaan rutin perlu dilakukan. Bisakah?

Nofi ditangkap dalam kondisi teler atau terpengaruh narkoba jenis sabu di rumah pribadinya di Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (13/3/2016). Pengaruh sabu masih terlihat hingga Senin (14/3), bahkan ketika dia dihadirkan saat jumpa pers di BNN, Cawang, Jakarta.

Nofi yang berusia 27 tahun dan berharta Rp 20 miliar ini diduga kuat memakai narkoba sejak lama. BNN sudah mengincarnya sejak tiga bulan lalu, sebelum proses pemilihan Pilkada. Kecurigaan pun muncul pada proses pemeriksaan tes narkoba di KPU saat pendaftaran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melihat hal ini, Kepala BNN Komjen Budi Waseso meminta agar setiap kepala daerah harus rutin menjalani pemeriksaan urine dan tes narkoba. Ini penting agar tidak ada kepala daerah yang menggunakan kekuasannya untuk berbuat kejahatan. (Baca: Kenapa Ada Tes Narkoba Cepat dan Lambat? Ini Penjelasan Ahli BNN)

"Setiap kepala daerah harus diperiksa urine, darah, diperiksa rambut. Supaya pasti, kepala daerah bisa bebas dari hal seperti ini," kata Buwas dalam konferensi pers kemarin.

Menurut Buwas, kecenderungan pengguna tidak akan mengakui berapa lama memakai narkoba. Biasanya, mereka akan mengelak. Apalagi orang dengan posisi dan jabatan tertentu. Meski begitu, BNN tidak hilang akal. Pemeriksaan ilmiah bisa membuktikannya.

"Kalau di rambut kelihatan, lebih dari 3 bulan kelihatan," kata Buwas.

Buwas menegakan, ada kepala daerah lain yang diduga memakai narkoba. BNN serius melakukan pemantauan terhadap mereka. Dia tidak gentar, meski harus menghadapi risiko tekanan dari partai politik pengusungnya.

"Tidak ada tekanan politik, cuma tekanan dari wartawan ada," ucapnya berkelakar. (mad/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads