Nofiadi yang baru berusia 27 tahun itu terpilih sebagai bupati setelah memenangkan Pilkada Ogan Ilir -- kabupaten pemekaran Ogan Komering Ilir -- pada 9 Desember 2015. Sesuai Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 15 Tahun 2015, sebelum ikut pilkada mestinya Nofiadi mendapatkan surat keterangan bebas narkoba dan menjalani tes kesehatan.
![]() Bupati Nofi Dibawa ke BNN (Foto-Wisnu P/detikcom) |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Bupati yang Diusung Dicokok BNN, PDIP Pertanyakan Hasil Tes Kesehatan
Kementerian Dalam Negeri pun secara resmi meminta kepolisian dan Komisi Pemilihan Umum mengusut keluarnya surat tes kesehatan dan bebas narkoba atas nama Nofiadi. Β
"Jadi ini kami akan cepat, ini sudah tidak benar sambil kita minta kepolisian dan KPU untuk cek ulang tes kesehatannya dulu. Dokternya siapa, rumah sakitnya mana, kok sampai lolos. Padahal sudah dipantau 3 bulan," kata Mendagri Tjahjo Kumolo kepada wartawan usai mengadiri Rakornas Bina Pemerintahan Desa di Hotel SwissBell, Jl Kartini Raya No 57 Mangga Besar, Jakarta Barat, Selasa (15/3/2016).
Tjahjo yakin BNN pasti memiliki data dan bukti yang kuat saat akan menangkap Bupati Nofiadi. Apalagi BNN sudah memantau si bupati selama 3 bulan sebelum akhirnya dicokok.
"Saya kira data tes kesehatan harus dibuktikan. BNN juga tidak asal tangkap ya. Dia juga pejabat daerah. Pasti track record sudah dipantau BNN, BNN juga punya struktur sampai tingkat Polres dan Polres punya bidang masalah narkoba," kata Tjahjo.
Nofi baru dilantik sebagai bupati pada 27 Februari 2016. Dia merupakan putra keempat dari Bupati Ogan Ilir sebelumnya, Ir H Mawardi Yahya. Nofi sebelumnya menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) OI periode 2014-2019 dari Partai Golkar. Saat maju pilkada, dia didukung PDIP, Golkar, Hanura, PPP, dan PKS. (erd/nrl)












































