"Kalau komunikasi selalu kita lakukan. Saya dengan sesama sekjen, harusnya selalu komunikasi tho. Jadi bekoordinasi dengan teman-teman itu selalu kita lakukan. Apakah langsung dapat titik temunya? Kan tidak harus," ungkap Hinca.
Hal tersebut disampaikannya saat rombongan SBY Tour de Java tiba di Salatiga, Senin (14/3/2016). Dalam pilkada, menurut Hinca komunikasi dengan semua parpol pasti dilakukan dengan tidak melihat sejarah hubungan terhadap masing-masing partai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena masing-masing nggak cukup juga kursinya. Jadi nggak boleh sombong, di sini dia tidak boleh, di sana boleh, kan terpaksa juga salaman," sambung Hinca.
Ia pun mengatakan, saat pilkada serentak 2015 lalu, PD dan PDIP cukup banyak 'bersalaman'. Setidaknya hampir 100 pemilihan kepala daerah kedua partai itu melakukan koalisi.
"Waktu Pilkada kemarin yang 269 itu, kami komunikasi terus dengan PDIP sama Hasto itu ya. Dari sekian banyak itu kami bisa bergabung di 78. Itu bersama ya. Contoh yang Gubernur itu Jambi, Bengkulu, itu bergabung tuh kami," jelas Hinca.
Dalam dunia politik, sebutnya, segala sesuatu bisa serba mungkin. Hinca sendiri mengaku sering sekali melakukan pertemuan dengan Sekjen PDIP Hasto Kristianto.
"Politik itu kan tanpa henti, kalau bisa salaman di level bawah, misalnya di bupati atau walikota, kenapa di level atas tidak? Politik segala sesuatunya sangat memungkingkan. Termasuk untuk berkomunikasi. Sekarang ini kalau para Sekjen setiap harinya bertemu. Pada waktunya mudah-mudahan bisa tertular," tuturnya.
Meski begitu, belum tentu dari hasil komunikasi tersebut semuanya memiliki persamaan persepsi. Untuk Pilgub DKI, Hinca berharap komunikasinya dengan PDIP bisa membuahkan hasil positif.
"Pas ketemu cocok, pas nggak ketemu ya nggak apa-apa dulu. Komunikasi akan terus kami lakukan sampai kapanpun. Tapi komunikasi dari bulan Maret ke bulan September 6 bulan saya yakin hasilnya baik. Nanti tunggu kan," ujar pria yang juga menjabat sebagai Waketum PSSI itu.
Pada dasarnya, Hinca juga berharap koalisi rekonsiliasi dapat menghangatkan kembali hubungan antara SBY dengan Mega. Apalagi jika itu diawali lewat Pilkada di Ibukota.
"Negara ini membutuhkan para negarawan-negarawan, politisi-politisi yang boleh berkompetisi keras, tapi ketika membicarakan negara, kehidupan bangsa dengan pas. Bicara Jakarta, bicara seluruh Indonesia," tutup Hinca. (elz/dhn)










































