"Kita semua kehilangan salah satu anak bangsa terbaik dan kejadiannya sama sekali tidak terduga," terang Anies di RSAL, Benhil, Jakarta Pusat, Senin (14/3/2016).
Sulistiyo menjadi korban meninggal akibat terbakarnya ruang tabung chamber Pulau Miangas Gedung Ruang Udara Bertekanan Tinggi (RUBT).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nama treatmennya saya lupa, itu bukan sakit. Jadi itu untuk kebugaran, biasa yang dipakai para penyelam, kalau penyelam itu masuk untuk menyesuaikan tekanan udara dari satu bar ke dua bar. Di situ sebetulnya oksigen murni yang diberikan," beber Anies.
Selain Sulistiyo, ada juga tiga orang lainnya yang meninggal dunia yakni Irjen Pol Purn Abubakar Nataprawira (65), Edi Suwardi Suryaningrat (67), dr Dimas Qadar Radityo (28). Informasi dari akun facebook Mochamad Iqbal Hassarief Putra menyebutkan Abubakar adalah ayah mertuanya, Edi Suwardi adalah ayahnya, dan dr Dimas adalah adiknya.
Pihak TNI AL sudah memberikan keterangan resmi bahwa penyebab insiden ini karena korsleting listrik.
Di ruangan itu tengah dilakukan pengobatan Hiperbarik Oksigen (HBO) yang untuk pertama kalinya digunakan untuk menanggapi penyakit dekompresi/Decompression Sickness, suatu penyakit yang dialami oleh penyelam dan pekerja tambang bawah tanah akibat penurunan tekanan (naik ke permukaan) secara mendadak. Saat ini pemakaian HBO selain untuk penyakit akibat penyelaman juga diindikasikan bermanfaat untuk berbagai penyakit klinis. (dra/dra)











































