Insiden ini terjadi pada Jumat, 19 Februari 2016, saat penerbangan Indonesia AirAsia QZ536 hendak mendarat di Bandara Perth runway 06. Beberapa menit sebelum mendarat pada pukul 10.00 waktu setempat, pesawat Airbus 320 itu berada di ketinggian 762 meter dan terkena gelombang angin kencang dari arah timur yang kuat.
ATC telah memperingatkan pesawat itu bahwa ada turbulensi sedang hingga berat di bawah ketinggian 1.000 meter. Angin itu telah menyebabkan pesawat itu anjlok sampai dengan 400 meter per menit, dan kecepatannya turun hingga 60 km per jam. Di dekat Royal Perth Yacht Club, ketinggiannya drop hingga 457 meter. Demikian dilansir The West Australian, Senin (14/3/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut penelusuran The West Australian, pesawat awalnya hendak mendarat di runway 21, yang membentang dari utara ke selatan, namun pilot meminta runway 06, ke arah sebaliknya, setelah angin dari timur menguat.
Presiden Direktur AirAsia Indonesia Sunu Widyatmoko saat dikonfirmasi detikcom mengatakan, untuk masalah investigasi pihaknya berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Ditambahkan Head of Corporate Secretary and Communications Indonesia AirAsia, Audrey Progastama Petriny, "Kami mensupport investigator ATSB."
Halaman 2 dari 1











































