Kepala Balai Laboratorium Kuswardani menjelaskan, ada perbedaan antara rapid test dan penelitian lanjutan. Rapid test biasanya uji pendahuluan, untuk menetapkan kecurigaan. Nah, untuk memastikannya secara akademis perlu dilakukan penelitian lanjutan.
Rapid test biasanya memang berlangsung cepat. Sementara penelitian lanjutan butuh waktu cukup lama. Itu pun sangat tergantung jenis narkoba yan dites.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lab BNN (foto: Lamhot Aritonang) |
Setiap sampel narkoba yang masuk ke dalam laboratorium, terlebih dulu dikirim ke ruang preparasi untuk meneliti masuknya sampel awal dari jenis narkoba. Di ruangan ini lah para analis farmasi BNN yang mengenakan seragam hitam BNN dan jas lab putih berkutat mencari tahu jenis dan golongan kimia zat adiktif.
Setelah diketahui, hasil sampel tersebut akan dilakukan pengujian kembali di ruang instrumen. Di ruangan ini hasil sampel awal akan dicocokan kembali dengan sistem komputerisasi, sehingga data yang dikeluarkan akurat 100%.
Foto: Lamhot Aritonang |
Nah untuk jenis narkoba baru, diakui Kuswardani, ini menjadi salah satu tantangan tersendiri kepada para analis di laboratorium. Sebab pihaknya harus membuat database baru secara akademis untuk dijadikan referensi.
"Kalau barang baru butuh waktu hal itu menjadi kesulitan dalam melakukan penelitian. Selama ini kita sudah punya database, semua itu kita cocokkan kalau tidak sesuai kita tidak berani simpulkan. Misalnya, hanya match 80% atau 90%, kita masih cari dulu pustaka secara manual akademisnya. Kalau tidak, maka bisa dibantah begitu saja," urainya.
Foto: Lamhot Aritonang |
Catinone diindikasikan BNN sebagai narkoba jenis baru. Karena itu, butuh waktu lama untuk proses pemeriksaannya. (edo/mad)












































Lab BNN (foto: Lamhot Aritonang)
Foto: Lamhot Aritonang
Foto: Lamhot Aritonang