"Almarhum sosok yang religius, dia orang yang sangat care dengan teman-temannya," ujar teman korban korban Septian, di rumah duka Abadi, Jalan Daan Mogot, Cengkareng, Jakbar, Sabtu (12/3/2016).
Septian yang sama-sama murid STMK BPK Penabur angkatan 95, mengatakan sudah hampir 20 tahun tidak bertatap muka langsung dengan Freedi. Komunikasi dijalin selama ini melalui media sosial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Septian menyebut, kepergian almarhum mengagetkan teman-temannya semasa duduk di bangku sekolah dulu. Dia menyesalkan minimnya persiapan yang dilakukan penyelenggara acara.
"Ya kaget kok KFC persiapan begini. Seharusnya kalau tersedak cepat, yang namanya lomba makan pasti buru-buru. Kok nggak ada tim medis," sesalnya.
Sementara rekan Freedi lainnya, Nuryadi (39), menceritakan riwayat sakit yang dimiliki Freedi. Korban diketahui memiliki sakit asma.
"Setahu saya waktu sekolah dia itu punya sakit asma, kalau susah nafas dia pakai inheler," kata Nuryadi.
Nuryadi mengatakan komunikasi terakhir digrup WA almarhum tidak banyak bercerita. Semasa hidup korban memang dikenal tertutup.
"Dia jarang ngumpul, waktu ajak ngumpul dia nggak datang. Dia orangnya lurus-lurus aja," tuturnya.
Sedangkan ayah Freedin Suyatno enggan memberikan keterangan perihal anak bungsunya. Kesibukan menjamu kerabat dan saudara membuat banyak energinya terbuang.
Atas kematian Freedi, pihak penyelenggara menyatakan bertanggungjawab secara moril dan materiil. Penyelenggara juga memutuskan menghentikan perlombaan yang memperebutkan hadiah Rp 5 miliar tersebut.
Baca juga: Penyelenggara Putuskan Hentikan Lomba Makan Ayam KFC Berhadiah Rp 5 M
(ed/miq)











































