Penampilan sasando yang dimainkan Jeagril Pah dan biola Eka Budhi Hartanti (Tanti) ini ada di gelaran 'Direct Promotion Indonesia in Hong Kong 2016', di Mal Mikiki, San Po Kong, Kowloon, Hong Kong, Sabtu (12/3/2016).
![]() |
Acara dari Kementerian Pariwisata Indonesia ini memang bertujuan membuat publik Hong Kong jadi tertarik mengunjungi Indonesia. Acara ini digelar di area atrium, tempat pengunjung mal biasa berlalu-lalang.
Kontan saja, dentingan sasando itu berhasil 'menyihir', menghentikan langkah ratusan orang pengunjung. Mereka berhenti sejenak, mengeluarkan kamera ponsel, dan mengabadikan kolaborasi apik ini. Tak berhenti sampai di situ, mereka juga terkadang maju ke panggung, berfoto bersama Jeagril dan Tanti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aku pikir ini luar biasa. Bagaimana dia bisa memainkan alat itu dengan senar-senar di sekeliling alat itu?" kata Jarvis, remaja Hong Kong yang mengaku baru pertama kali melihat permainan Sasando.
Pria ini menilai bunyi sasando mirip harpa, hanya saja senarnya disusun melingkari sebuah tabung. "Tentu ini sulit memainkannya," kata Jarvis yang baru berumur 14 tahun.
Ada pula Laura, pemudi asal Hong Kong yang tertegun melihat sasando karena membandingkan alat musik yang selama dia tekuni. "Saya ini juga belajar piano, itu sebenarnya mirip dengan piano. Lihatlah, dia bisa memainkan melodi dan harmoni sekaligus," kata Laura saat berbincang.
Justru dia bertanya, di mana dia bisa belajar sasando. Dia pikir, acara ini adalah semacam 'coaching clinic' alat musik. Namun seperti diketahui, ini merupakan atraksi musik dari promosi wisata saja, bukan pelatihan instrumen musik. Dia juga penasaran soal material instrumen ini.
"Oh, jadi tabung itu dibuat dari bambu ya?" kata Laura sambil menyimak permainan Jeagril.
![]() |
Ada pula seorang pria yang bertanya-tanya dari mana alat musik itu berasal. Setelah dijelaskan bahwa alat musik itu berasal dari daerah Indonesia, dia lalu bisa mengerti.
"Oh, dari Indonesia. Saya belum pernah mengunjunginya," kata pria paruh baya yang cukup lancar berbahasa Inggris ini.
Lagu-lagu seperti 'Bolelebo' dari Nusa Tenggara Timur juga 'Sajojo' dari Papua bisa dibawakan dengan baik. Lagu 'Hujan Gerimis' dari Benyamin Sueb juga bisa tampil ciamik saat dimainkan dengan sasando dan biola, tanpa vokalis.
Bahkan Jeagril memainkan sendiri lagu 'No Woman No Cry' dari Bob Marley. Lagu 'Canon In D' dari Johann Pachelbel juga dilibasnya menggunakan sasando.
Lagu berbahasa Mandarin seperti 'Yuliang Day' dan 'Tianmimi' dari Teresa Teng juga diinterpretasikan dengan memikat. Sejumlah pengunjung mal bahkan ditarik untuk menyanyi dan menari bersama, dan dengan senang hati mereka bisa menikmati sasando.
Baik pria ini, Laura, maupun Jarvis yang ditanyai terpisah, kesemuanya belum pernah mengunjungi Indonesia. Jarvis merencanakan akan mengunjungi Indonesia pada musim liburan mendatang.
"Mungkin musim panas mendatang, aku juga ingin berlibur ke sana," kata Jarvis.
![]() |
Acara 'Direct Promotion Indonesia In Hong Kong 2016' ini digelar dua hari, 12 dan 13 Maret ini. Di sini disediakan pojok informasi pariwisata Indonesia untuk publik Hong Kong. Konsulat Jenderal Indonesia untuk Hongkong Chalief Akbar memberikan sambutan untuk mempersilakan publik Hong Kong mengunjungi Indonesia.
Selain pertunjukan musik, ada pula pertunjukan tari piring dan tari asal Betawi dari dua penari perempuan Nani Sumarni dan Anggia Angun Putri. Ada pula sajian kopi khas Indonesia, tepatnya kopi Arabica dari perkebunan Ciwidey, Jawa Barat, yang disuguhkan barista Joffri Soesman. (dnu/dra)














































