"Yang diputuskan oleh Ahok hanya satu, menyertakan nama Heru sebagai nama calon wakil di formulir pengumpulan KTP yang dikumpulkan Teman Ahok. Karena memang tidak ada waktu lagi, sementara nama Djarot belum bisa disertakan karena belum ada izin dari PDIP," kata pengamat politik Yunarto Wijaya dalam perbincangan, Kamis (10/3/2016).
Yunarto melihat pernyataan-pernyataan Ahok selama ini masih bersayap. Mantan Bupati Belitung Timur itu memang mengatakan akan membiarkan Teman Ahok bekerja sampai bulan Juni. Bila hasil KTP yang dikumpulkan untuk Ahok-Heru tidak signifikan sementara partai marah, maka bisa saja dia tidak maju di Pilgub DKI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mega belum keluarkan pernyataan langsung. Ahok pun masih buka kemungkinan untuk lewat jalur partai bila syarat tidak memungkinkan," ungkap Yunarto.
Kalaupun PDIP sudah menutup pintu, Ahok masih bisa diusung oleh gabungan partai-partai lain. Selama ini, mantan anggota DPR itu memang sering menyinggung kedekatannya dengan sejumlah partai, mulai dari PAN hingga Hanura. NasDem pun sudah menyatakan mendukung Ahok.
Menurut Yunarto, saat ini Ahok sedang melakukan pendidikan politik bagi masyarakat. Selama ini, masyarakat dipertontonkan dengan adanya politik balas budi hingga politik mahar antara kepala daerah dengan partai.
"Ahok ingin menunjukkan bahwa dalam pencalonan, kandidat dan partai sederajat. Jadi bukan kandidat yang mengemis dan bergantung dengan partai," ujarnya. (imk/imk)











































