Seperti yang dilakukan Made Ariawan yang memilih bersembahyang di pura sejak Selasa (8/3) malam, bersama belasan penganut agama Hindu lain.
"Di sini lebih banyak sharing dan intropeksi diri, yang lain ada yang baca buku dan istirahat," ujar Ariawan saat ditemui detikcom di Pura Aditya Jaya, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (9/3/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah orang memilih berada di Pura Aditya Jaya, Jakarta, saat Hari Raya Nyepi. Foto: Bisma Alief/detikcom |
Warga yang berada di Pura menurut Ariawan melakukan empat kali sembahyang yang dimulai pada pukul 24.00 WIB dan pagi tadi pukul 06.00 WIB.
"Tiap 6 jam ada sembahyang sampai nanti pukul 24.00 WIB," sebutnya.
Di hari Nyepi, umat Hindu melaksanakan Catur Brata atau empat pantangan yang harus dijalankan saat melaksanakan hari Nyepi, yakni tidak boleh menyalakan api, tidak boleh berfoya-foya, tidak berpergian ke luar rumah dan tidak melakukan pekerjaan.
Bagi Ariawan, hari Nyepi di Jakarta memang berbeda suasananya dengan Bali. "Kalau di Bali pastinya lebih hikmat ya, lebih terasa suasana Nyepi. Kalau di Jakarta, masih ada aktivitas warga dan juga masih terdengar suara mobil," ujarnya.
Pura Aditya Jaya, Jakarta, saat Hari Raya Nyepi. Foto: Bisma Alief/detikcom |
Yang pasti, Ariawan dalam doanya menyelipkan permohonan agar kedamaian umat beragama tetap terjaga. Selain itu warga juga didoakan untuk tetap menjaga lingkungan.
"Untuk lebih damai antar sesama umat beragama dan saling menjaga lingkungan," kata Ariawan.
(fdn/miq)











































Sejumlah orang memilih berada di Pura Aditya Jaya, Jakarta, saat Hari Raya Nyepi. Foto: Bisma Alief/detikcom
Pura Aditya Jaya, Jakarta, saat Hari Raya Nyepi. Foto: Bisma Alief/detikcom