Matanya terlihat sembab. Yudha mengaku mulai kelelahan karena sebelumnya ia menunggu dengan cemas kepastian keberadaan sang suami dan kini mulai banyak tamu yang berkunjung ke rumahnya untuk mengucapkan bela sungkawa.
Sambil menangis mengenang sang suami, perempuan dua anak tersebut bercerita tidak mendapatkan firasat apapun sebelum suaminya meninggal. Yudha mengaku pertemuan terakhir dengan suaminya yaitu pada Jumat pagi, saat Puji akan berangkat kerja. Ada sebuah pesan singkat terakhir yang ia terima dari sang suami berisikan tentang jadwal kepulangannya. Sang Mualim 1 itu berkata pada istrinya baru bisa pulang pada Sabtu siang karena ada perubahan jadwal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Yudha, Puji adalah sosok yang bertanggung jawab, humoris dan penuh kasih sayang kepada dua anaknya, Safira Rizki Ramadhani (4,5) dan Ahmad Khoirus Zamani (19 bulan). Perempuan berjilbab itu mengaku dilema serta kesulitan menjelaskan pada dua anaknya bahwa ayah yang dicintainya telah meninggal dunia.
"Yang besar sempat tanya, abah kok tidur terus nggak bangun bangun? Saya hanya bisa jawab abah lagi tidur di surga," jelasnya sambil menangis menggenggam dua tangannya.
Dijelaskan Yudha, suaminya tersebut baru bekerja menjadi Mualim 1 di KMP Refalia II sejak 2 bulan lalu. Sebelunya dia bekerja sebagai nahkoda di operator kapal lain. Hampir 12 tahun Puji mengabdiย penuh melintasi perairan Selat Bali.
"Hampir 12 tahun wira wiri di Selat Bali, seperti hapal jalur di Selat Bali karena tugas di sana sejak masih magang. Buat dia tanggung jawab kepada penumpang di atas segalanya. Saya bangga menjadi istrinya," pungkasnya dengan terharu.
Hari ini, Yudha menerima santuan dari PT Jasa Raharja sebesar Rp 100 juta. (fat/try)











































