Kepiawaian Mengendus Bisnis Isi Perut

<I>Anyonghaseo</I> (2)

Kepiawaian Mengendus Bisnis Isi Perut

M Aji Surya - detikNews
Senin, 07 Mar 2016 16:33 WIB
Kepiawaian Mengendus Bisnis Isi Perut
Foto: Istimewa
Seoul - Anyonghaseo. Tidak seperti di beberapa negara lain, boleh dibilang WNI di negeri ginseng relatif berkecukupan, atau malah lumayan makmur. Mereka enteng membelanjakan Won yang diterima tiap bulan. Namun soal mengendus peluang bisnis, masih perlu bukti yang lebih nyata.

Mau tahu buktinya? Satu organisasi keagamaan di sana, dalam sebuah pengajian akbar medio Pebruari 2016, mampu mendatangkan 7000-an WNI dengan anggaran mandiri kisaran Rp 300 juta rupiah. Bahkan pernah mengumpulkan uang miliaran dalam beberapa jam ketika sang penceramah kondang dari Jakarta mengajak bersedekah.

Masih tegar dalam ingatan, ketika saya bertamu ke komunitas WNI manapun, seolah ada rebutan, siapa yang bisa bayar duluan makanan yang baru saja disantap. Seolah mengamalkan: "tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak heran, suatu siang, saat makan dengan beberapa mahasiswa Indonesia, saya terpaksa pura-pura ke kamar kecil sekedar mengelabui agar bisa membayar biaya goyang lidah. Tapi begitu kita ngafe (usai makan), mereka lebih cekatan membayarnya. Maklum, beasiswa S2 di Korea bisa mencapai kisaran $1100 dan S3 kurang lebih $2000. So, urusan isi perut bukanlah isu yang maha besar.

Foto: M Aji Surya/detikcom

Masih belum percaya? Dalam sebuah pengajian yang dihadiri 65 orang, suatu sore, diumumkan ada seorang WNI yang sedang dirawat di RS. Spontan terkumpul dana bantuan kisaran Rp 800 ribu. Di malam libur, mahasiswa memiliki kebiasaan membunuh waktu dalam tiga tahap: ngafe di sore hari, makan malam dengan menu berat, lalu ketika hari akan habis mereka menikmati snack yang berselera. Fulus insya Allah bukan masalah.

Konsekuensinya, di beberapa kota tempat konsentrasi WNI, sangat mudah mencari warung Indonesia yang menyajikan makanan khas yang nyaem-nyaem. Mulai bakso, lontong sayur hingga semur. Bahkan, mie instan hingga teh botol merek tertentu siap menjadi orkestra tarian lidah. Datang ke kota-kota tersebut layaknya ke Jakarta, Semarang, Surabaya maupun Samarinda saja. Harganya pun relatif terjangkau isi kantong.

Sekitar 40 ribu WNI di sana, sebagaimana layaknya warga negara lain, punya rasa rindu pada kampung halaman yang dimanifestasikan dengan goyang lidah. Dus, konsumsi yang mereka kunyah, mulai dari mie, teh botol hingga rokok merek tertentu dari Indonesia menjadi sebuah peluang usaha yang tidak kecil.

Seorang pejabat pernah membisikkan ke telinga saya, bahwa peluang impor makanan Indonesia itu mencapai 121 miliar rupiah per bulan, atau Rp 1,4 triliun per tahun. Itu pun hitungan kasar. Bisa jadi aslinya jauh lebih besar mengingat sebagian besar WNI merasa tidak nendang kalau mengisi perutnya dengan roti atau masakan setempat seperti bibimbap.

Β "Itu belum termasuk peluang bisnis turunannya seperti warung, retail dan lainnya," katanya.

Foto: M Aji Surya/detikcom

Repotnya, peluang ini justru banyak diendus oleh warga asing, non-Indonesia. Bisnis ratusan miliar itu umumnya dikelola oleh warga negara negeri jiran yang telah memiliki perusahan di negeri ginseng. Beberapa WNI hanya jadi pekerja, tukang icip-icip (tester), tukang masak, atau malah berhenti sebagai penikmat. Ya, dalam batas tertentu, banyak yang sudah puas sebagai pegawai atau penikmat. Maklumlah, namanya bisnis pasti memiliki resiko rugi. Cari duit susah-susah, masak berisiko hilang, pikir mereka.

Saya pun kemudian teringat apa yang dikatakan Presiden Soekarno tahun 1964: "dan sejarah akan menulis di sana, di antara dua benua Asia dan Australia, antara lautan Teduh dan lautan Indonesia, adalah hidup suatu bangsa yang mula-mula mencoba untuk hidup kembali sebagai bangsa. Akhirnya kembali menjadi satu kuli di antara bangsa-bangsa. Kembali menjadi een natie van koelies, en een koelie onder der naties".

Itukah bangsa kita? Mungkin saya salah dan ngawur. Alias sekedar lamunan kosong belaka. Bisa jadi prediksi pendiri bangsa besar ini juga tidak tepat-tepat amat. Atau teori terkenal tersebut sudah kedaluwarsa.

Namun yang jelas, kok ya tidak banyak terlihat jiwa wirausaha warga kita di Korea yang menginginkan business opportunities itu jatuh ke tangan sendiri. Lebih asyik sorak sorai sebagai penonton. Atau mungkin nanti baru sadar ketika kesempatan itu lenyap, hanyut di Hangang (Sungai Han) yang melintasi negeri ginseng. Wallahu a'lam bisawab, soal ilmu alam susah dijawab. (try/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads