Adhyaksa: Saya Sering Di-bully di Twitter

Jelang Pilgub DKI

Adhyaksa: Saya Sering Di-bully di Twitter

Jabbar Ramdhani - detikNews
Senin, 07 Mar 2016 15:09 WIB
Adhyaksa: Saya Sering Di-bully di Twitter
Foto: Jabbar Ramdhani
Jakarta - Adhyaksa Dault mengaku sering di-bully netizen. Banyak kalangan yang mengatakan bahwa dirinya seorang yang anti Kristen.

"Saya sering di-bully di twitter. Katanya saya anti Kristen," ucap Adhyaksa Dault di rumahnya di Jalan Pengadegan Selatan, Jakarta Selatan, Senin (7/3/2016).

Sebutan anti Kristen yang hinggap itu dibantahnya langsung olehnya. Menurutnya, dia adalah orang yang terbuka terhadap semua kalangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya sejak jadi Menpora selalu terbuka kepada umat agama lain. Hari Natal saya ikut merayakan bersama umat Kristiani, begitu juga dengan umat lainnya," ujar Adhyaksa yang kini menjabat Ketua Kwartir Nasional Pramuka ini.

Adhyaksa bercerita persoalan ini bermula setelah ia mengadakan pertemuan empat mata dengan Gubernur DKI Basuki T. Purnama. Adhyaksa memberikan saran kepada Ahok, menurutnya jika menjadi pemimpin DKI Jakarta, Ahok harus memperbaiki hubungan dengan kelompok Islam.

"Pak Ahok, kalau menjadi gubernur DKI, perbaiki hubungan dengan orang Islam dong. Saya bercerita bahwa di daerah Sulawesi Utara, yang menjadi gubernur adalah orang Kristen karena di sana mayoritas orang Kristen. Begitu juga di Bali, siapa pun yang jadi gubernur adalah orang Hindu," cerita Adhyaksa.

Pada pertemuan empat mata itu, sebenarnya keduanya berjanji untuk tidak menceritakan pertemuan tersebut kepada rekan media. Namun Ahok berbicara kepada media.

"Saat itu Pak Ahok ngomong ke media, kalau saya masuk Islam, maka Pak Adhyaksa akan mendukung saya jadi presiden. Setelah itu saya di-bully di medsos," ujar Adhyaksa.

Menurut Adhyaksa, untuk menjadi pemimpin, dibutuhkan komunikasi yang baik. Dan Adhyaksa mengaku bisa masuk lewat celah tersebut.

"Tapi yang paling penting adalah human capital. Internal dan eksternal komunikasi itu penting. Mungkin saya bisa masuk dari sisi itu," ujar pria kelahiran Donggala berusia 52 tahun itu.

"Jakarta perlu pemimpin yang humanis. Bolehlah tegas tapi nggak kasar," tambahnya.

(van/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads