Pertanyaan ini muncul karena pernyataan-pernyataan Ahok yang belum tegas maju lewat jalur independen. Ahok bahkan sempat menawarkan kepada teman Ahok agar mau menjadi relawan PDIP.
"PDIP kan mau usung, dia partai besar ada 28 kursi tapi PDIP juga ngerti Teman Ahok punya idealisme yang baik. Saya tawarkan alangkah baiknya Teman Ahok jadi relawan di PDIP. Tapi Teman Ahok kan enggak yakin sama PDIP," cerita Ahok di Balai Kota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (7/3/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"PDIP sudah oke kalau saya sama Djarot udah oke. Usung oke, karena PDIP utamakan petahana yang memang prestasi baik, terus survei tertinggi. Saya sudah menuhi syarat PDIP," kata Ahok.
Nah Ahok kemudian mengumpamakan PDIP sebagai mobil bagus lengkap dengan sopirnya. Kursinya tentu saja empuk, apalagi PDIP bisa menjadi pengsung tunggal Ahok di Pilgub DKI 2017. Sementara itu Teman Ahok, diumpamakan menawarkan jalur bus kota.
"Ibarat udah naik bus dikasih mobil bagus ke kota ada sopir lengkap, tapi kalian ajak saya naik bus. PDIP kan ibarat mobil itu lengkap semua. Mereka jawab naik bus kan ramai-ramai, kalau mobil mewah kan kami enggak ikut. Mereka juga sepakat ya sudah saya bilang ya sudahlah," ujar Ahok yang akhirnya tetap bersama relawan menempuh jalur independen.
Walaupun Ahok menyadari risikonya. Dia bahkan bicara soal kemungkinan dirinya selesai Oktober 2017 jika Teman Ahok gagal mengumpulkan tandatangan untuk Ahok-Heru menuju Pilgub DKI.
"Ya sudah ini risiko, bisa-bisa kalian (Teman Ahok) kalau tak terkumpul lalu partai marah tak calonkan saya
ย berarti saya enggak bisa nyalon lagi. Saya akan selesai Oktober 2017," kata Ahok.
Lalu apakah Ahok sudah bulat maju Pilgub DKI dengan 'bus kota' ?
(van/trw)











































