Massa ormas itu mencari anggota Satpol PP untuk mempertanyakan poskonya yang dibongkar. Karena tak ada petugas Satpol PP sama sekali, massa ormas menyerang membabi buta. Ahmad Zaenal Arifin (46), pekerja Pelayanan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) alias pasukan oranye yang ada di kantor kelurahan tersebut pun diserang hingga mengalami luka tusukan.
![]() |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pernah sebulan yang lalu (dibongkar) terus dibangun lagi lebih bagus kayak tenda pos polisi gitu. Kemarin pas abis dibongkar sebenarnya mau dibangun lagi tapi tidak jadi," ucap Didi, yang sehari-hari jadi tukang parkir di seberang posko saat ditanya wartawan, Senin (7/3/2016).
Saat pertama kali didirikan, posko ini bentuknya seperti warkop. Pasca dibongkar bulan lalu, posko ini dibangun lebih mewah seperti tenda pos polisi, namun tetap saja petugas terus membongkarnya.
"Dibongkar karena dia di atas selokan, kata petugas itu enggak boleh," ucapnya.
Didi mengatakan, posko yang baru berumur 3 bulan ini selalu ramai saat malam. Di dalam posko itu terdapat televisi, kipas, meja dan kursi.
"Biasanya dipakai nongkrong, ada anak Cilining, Warakas. Kalau malam bisa 10 sampai 20 orang di sini," ucapnya.
Ukuran posko ini hanya 2x3 meter. Menurut Didi, bila malam hari posko ini tetap diterangi lampu dan TV-nya pun menyala.
"Listriknya ilegal kata petugas yang kemarin," imbuhnya.
Tapi, kalau massa ormas itu mau 'rapat akbar', mereka memilih menggelar rapat di kedai lain karena jumlah massanya di atas 20 orang.
"Kalau mereka rapat yang pesertanya lebih 20 orang, mereka biasanya ke Sevel seberang," tutupnya.
(rvk/nrl)












































