"Aslinya pusing, agak kurang betah tapi ya dikuat-kuatin aja namanya kerjaan," kata seorang pekerja PHL Dinas Tata Air Bidang Aliran Tengah, Tarmadi, usai keluar dari gorong-gorong di Jl Medan Merdeka Selatan, Minggu (6/2/2016).
Petugas yang turun ke gorong-gorong dilengkapi seperti helm keselamatan, senter kepala (headlamp), sepatu boot, sepatu karet dan peralatan lainnya. Namun, selain helm dan sepatu, pemakaian alat lainnya disesuaikan kebutuhan dan kenyamanan pekerja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tergantung orangnya, nyamannya kerja kayak bagaimana," kata petugas lainnya, Diki, saat ditanya soal perlengkapan yang dimilikinya. Baik Diki dan Tarmadi sama-sama tidak menggunakan sarung tangan.
Keduanya menjelaskan oksigen dalam gorong-gorong terbatas bahkan cenderung pengap. Tarmadi yang diperbantukan hari ini berhasil bertahan dalam gorong-gorong selama 4 jam tanpa bantuan alat pernapasan.
"Saya sampai empat jam di dalam, pengap sih pengap. Cuma ya mau bagaimana," kata Tarmadi.
Ketika sudah merasa tidak kuat, biasanya petugas di dalam gorong-gorong akan naik ke atas. Mereka akan digantikan rekannya yang lain untuk menyisir saluran yang masih didominasi sampah bungkus kabel dan endapan lumpur.
Pembersihan gorong-gorong di ring 1 masih terus dilakukan sejak dimulai intensif pada 24 Februari. Namun, hari ini petugas hanya bekerja dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB dari titik depan Kementerian ESDM menuju ke arah gedung Bank Indonesia. 2 Truk bungkus kabel temuan hari ini diangkut dan dibawa ke gudang Sudin Tata Air Jakarta Pusat di Jl Danau Damplas, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. (mnb/nrl)











































