Terbaru, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)Β menginstruksikan agar anak buahnya menuntaskan masalah sampah bungkus kabel. Ia bahkan meminta got di seluruh Jakarta dibersihkan, bukan hanya di kawasan Ring I.
Pasukan biru dari Dinas Tata Air Pemprov DKI Jakarta beserta pasukan 'katak' dari TNI AL bahu membahu membersihkan gorong-gorong. Ada 1.100 saluran air nantinya yang bakal dilacak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut 3 biang kerok itu:
1. 20 Truk Sampah Kabel
|
Foto: Rachman Haryanto
|
"Ini akan kita kerjakan, terus dicari karena makin dalam sepertinya makin banyak. Jadi, sampai kemarin (Rabu,red) sudah 17 truk. Mungkin sekarang itu sudah sekitar 20 truk," kata Teguh saat dihubungi lewat telepom, Kamis (3/3/2016).
Ia memprediksi masih banyak sampah bungkus kabel. Oleh karena itu, Teguh akan meminta bantuan. Salah satunya kepada satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL. Sementara, tim Kopaska sudah membantu mengecek drainase di sepanjang Jalan Medan Merdeka Utara.
"Ya, saya akan melibatkan Kopaska rencananya di Medan Merdeka Selatan, karena ini semakin panjang semakin dalam, kita akan terus susuri limbah sampah ini karena sepertinya masih banyak," tuturnya.
2. Lumpur Menahun
|
Foto: Aditya Fajar Indrawan
|
"Sedimentasi lumpur, yang sudah mengendap lama, kalau sampah plastik ada tapi sedikit," kata Danden IV Satuan Kopaska Koarmabar Kapten laut Edy Tirtayasa di Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (3/3/2016).
Ada 12 orang pasukan Katak TNI AL yang terjun ke gorong-gorong di Jakarta. Mereka dibagi dalam 3 tim dan disebar ke 3 titik.
"Saluran yang paling banyak mengarah ke Monas, sedimen tidak bisa ditembus. Ada yang tertutup (lumpur-red) sampai 100% dan 80%," jelas Edy yang mengakuΒ mendapat perintah dari Panglima Koarmabar Laksamana Muda Achmad Taufiqoerrochman untuk membantu penelusuran drainase.
"Dranaise sempit dan kecil, jadi tim kesulitan untuk masuk menelusuri," tambah dia lagi.
Namun ada juga beberapa drainase yang menyambung masih lancar. Edy kembali menegaskan, Kopaska siap terus membantu membuka jalur drainase. "Tergantung dari pemda, dan sesuai arahan dari pimpinan," tutup dia.
3. Protap Belanda
|
Foto: Alfathir Yulianda
|
"Saya rasa sudah ketemu kenapa. Mereka (petugas Dinas Tata Air DKI) salah paham . Tadi saya kumpulkan semua yang menjaga pintu, saya sudah bilang dibuka saja, (Pintu Air) Manggarai jangan ditutup," kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (2/3/2016).
Pekerja Harian Lepas (PHL) Dinas Tata Air yang juga dikenal sebagai Pasukan Biru itu telah salah memahami prosedur pengelolaan tiap-tiap pintu air. Mereka malah menutup pintu air, soalnya mereka masih mengacu pada Prosedur Tetap (Protap) Tahun 1973 yang bersumber pada kajian Belanda.
"Tahu enggak dia pakai Protap tahun berapa? Gila, Tahun 1973! Padahal waktu itu belum ada Waduk Pluit, Pasar Ikan, (kali di) Gunung Sahari belum dipasang sheetpile (dinding turap), Pintu Air Manggarai belum ditambah satu," kata Ahok.
Kini Jakarta sudah berubah. Tak perlu lagi main tutup pintu air. Padahal sejak 2014, pintu-pintu air sudah diinstruksikan untuk dibuka saja. Namun kemarin malah ditutup lagi karena balik mengacu pada Protap Tahun 1973.
"Justru saya marah, kenapa kalian tetap lagi. Tadi saya sudah memberi pengertian, sudah sepakat," kata Ahok.
Kuncinya, kata Ahok, ada di Pintu Air Manggarai. Pintu Air yang satu ini harus tetap dibuka terus. Ada satu pengecualian, Pintu Air ini perlu ditutup saat musim kemarau agar sungai tak kering. "Kecuali saat kemarau. Kita enggak mau hulunya Ciliwung kering. Kalau kering diduduki orang, bikin rumah. Nah kita tetap, musim hujan buka semua," tuturnya.
Halaman 2 dari 4











































