Ganjar datang langsung ke bengkel Sariman di Dusun Sidasari RT 05 RW 01, Desa Tambaksari, Kecamatan Kedungreja, Cilacap Jawa Tengah. Ia melihat alat yang dikenal orang Jawa dengan sebutan "Jogjig" itu.
Foto: Angling AP/detikcom |
"Kok kepikiran bikin kayak gini?" tanya Ganjar dengan bahasa Jawa ngapak, Kamis (3/3/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya punya mimpi punya alat berat murah, untuk rakyat kecil. Kalau di dusun ada yang punya enak, saya juga pingin bikin backhoe," jawab Sariman.
Pria empat anak itu kemudian menerangkan bahan-bahan bekas apa saja yang digunakan untuk membuat alat kreasinya. Bahkan ia mengatakan sudah ada orang yang berniat membuat alatnya seharga Rp 25 juta.
"Ada yang mau beli Rp 25 juta. Tapi saya belum mau, ini buat jimat dulu, pertanda jalan dari Allah," ujar Sariman.
Foto: Angling AP/detikcom |
Ganjar melihat potensi dari karya Sariman itu. Ia pun membantu Sariman agar segera mengurus SNI dan memperhatikan langkah-langkah produksi agar kasus Kusrin tidak terulang lagi.
"Bisa ke Dinas perindustrian, agar tidak seperti Kusrin. Masyarakat Jateng yang kreatif punya pikiran maju kalau mau berkreasi tidak melanggar hukum. Kalau butuh pembiayaan tidak apa-apa," tegas Ganjar.
Meski demikian Sariman mengaku tidak mengerti bagaimana prosedur agar karyanya mendapat izin diproduksi massal. Ganjar kemudian memanggil pihak Dinas Perindustrian setempat dan juga Kepala Kecamatan agar membina Sariman.
"Produk bagus. Menuju SNI biar enggak kayak Kusrin. Bisa kita dorong ke Menteri Perindustrian, Menristek atau kerjasama dengan BUMN, bisa CSR, apakah mereka mau ini buat ini lagi," terang Ganjar.
"Saya tidak tahu yang seperti itu," kata Sariman.
Baca: Kusrin, Perakit TV Lulusan SD Akhirnya Dapat Sertifikat SNI
"Ya makanya ini dikasih tahu. Ini ada bu Reni, kepala dinas perindustrian," jawab Ganjar sambil memperkenalkan Reni ke Sariman.
Foto: Angling AP/detikcom |
Diketahui, Sariman mulai banyak dikenal setelah melakukan uji coba slender buatannya pertengahan bulan Februari. Ia terus memperbaiki kekurangan-kekurangan pada alatnya termasuk melengkapi spion.
"Ini belum ada rem, tapi pakai kopling bisa. Yang bisa naik baru saya," kata pria lugu itu. (alg/trw)












































Foto: Angling AP/detikcom
Foto: Angling AP/detikcom
Foto: Angling AP/detikcom