Jejak Tokoh Islam Oei Tjeng Hien di Rumah Pengasingan Soekarno

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Rabu, 02 Mar 2016 13:25 WIB
Foto: Elvan Dany S
Bengkulu - Bendera merah putih berkibar di puncak tiang di depan sebuah rumah kuno nan antik di pusat Kota Bengkulu. Rumah tersebut adalah rumah pengasingan yang menyisakan kenangan hidup Soekarno di Bengkulu, dengan benda-benda bersejarah yang masih tersisa.

Rumah ini terletak di tengah Kota Bengkulu, tepatnya di jalan Soekarno-Hatta. Soekarno menempati rumah itu pada tahun 1938-1942, di tengah pengasingan di zaman penjajahan Belanda.  Detikcom berkesempatan mengunjungi rumah bersejarah ini pada Selasa (1/3/2016).

Awalnya, rumah tersebut adalah milik seorang pedagang Tionghoa yang bernama Lion Bwe Seng yang disewa oleh Belanda untuk menempatkan Soekarno selama diasingkan di Bengkulu. Meski sudah sangat kuno, namun rumah dengan sejumlah pemugaran ini masih tampak kokkoh dari luar, lengkap dengan halaman depan dan belakang nan luas dan asri.

Di dalam rumah ini masih tersimpan banyak barang-barang bersejarah peninggalan Soekarno. Seorang guide berbahasa jawa tulen, Dicky, siap menyambut para pengunjung. Tak ada tarif resmi untuk menengok rumah bersejarah ini, hanya bentuk perhatian kepada sang guide.
Lukisan Fatmawati semasa muda

Begitu masuk pintu utama, pengunjung langsung dihadapkan dengan ruang tamu dengan kursi dan meja masih orisinil, ada sepeda tua Soekarno dipajang di dalam lemari kaca tepat di jalan akses menuju ruang tamu. Di sebelah kanan rumah ini, Soekarno punya ruang baca yang cukup luas, kira-kira tiga meter persegi. Masih ada beberapa rak berisi buku-buku tua yang mulai usang, buku ini dibaca Soekarno di tengah pengasingan. Beberapa buku sudah direstorasi, namun sebagian besar sudah usang dimakan usia.
Rak buku di ruang baca Soekarno

Sementara di belakang ruang tamu ada sebuah kamar lengkap dengan tempat tidur besi lengkap dengan sprei putih bersih dan bantal. Di kamar ini ada foto-foto keluarga Soekarno-Inggit Ganarsih. Ada juga foto Fatmawati muda nan cantik. Di seberang kamar ini ada juga sebuah kamar lengkap dengan tempat tidur besi yang menjadi tempat istirahat Bung Karno dan Inggit Ganarsih.Di pojok kamar ini ada sebuah meja rias kayu yang didesain saat Soekarno menjadi pengusaha meubel di bengkulu.
Tempat tidur Soekarno dan Inggit Ganarsih

Di antara rak-rak buku dan pakaian Soekarno di ruang tengah, terdapat foto-foto Soekarno dengan sejumlah teman istri dan teman-teman seperjuangannya. Yang juga menarik adalah foto Soekarno berpose dengan Buya Hamka dan Oie Tjeng Hien di Bengkulu. Ada beberapa foto Soekarno bersama dengan tokoh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) ini terpajang di rumah pengasingan Soekarno. Detikcom pun sempat berdiskusi dengan guide yang bermana Dicky yang terdengar sangat paham sejarah Oie Tjeng Hien ini.
Baju-baju Soekarno dan foto-foto bersana teman seperjuangannya

Melongok sejarah silam, tokoh tionghoa tersebut punya nama panjang Abdul Karim Oei Tjeng Hien. Dia adalah perintis ajaran Islam dari etnis Tionghoa Indonesia. Dia mendirikan organisasi warga etnis Tionghoa Islam, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Dia juga dikenal sebagai salah satu tokoh Muhammadiyah. Karim Oei, demikian akrab disapa, juga merupakan salah satu tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia bersama Soekarno dan Buya Hamka.

Karim Oei yang dilahirkan di Padang Panjang, Sumbar, pada 6 Juni 1905 ini pernah menjabat sebagai anggota DPR (1956-1959) yang mewakili kaum Tionghoa, dia bahkan pernah menjabat ketua Partai Masyumi Bengkulu (1946-1960). Pada tahu 1967-174, dia aktif menjabat sebagai Pimpinan Harian Masjid Istiqlal Jakarta.
Hamka (Kiri), Oei Tjeng Hien (duduk), dan Bung Karno (Kanan)

Karim Oei tercatat sejarah meninggal dunia pada 14 Oktober 1988 di usia 83 tahun. Jenzahnya dimakamkan di TPU tanah kusir, berdekatan dengan Maemunah Mukhtar, istrinya yang wafat pada tahun 1984. Untuk mengenang Karim Oei, beberapa organisasi seperti NU, Muhammadiyah, KAHMI, Al-Washliah, ICMI, dan beberapa tokoh muslim Tionghoa mendirikan sebuah Yayasan Haji Karim Oei. Yayasan tersebut mendirikan dan mengelola Masjid Lau Tze yang terletak di daerah Pecinan Jakarta.

Setelah mengenang sejarah menarik tentang Karim Oei, kami pun meneruskan menjelajah rumah pengasingan Soekarno ke halaman belakang yang luas. Rumput hijau menutup sebagian besar halaman belakang, ada dapur, kamar pembantu, dan gudang berjajar di bagian belakang samping rumah pengasingan ini. Sementara ada sebuah sumur tua yang kental dengan mitos bertuah. Entah apakah mitos soal sumur bertuah itu benar atau tidak, namun airnya terasa sejuk di wajah dan menyegarkan. Menimba air di sumur bertuah ini pun jadi penutup perjalanan kami di rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu. (van/trw)