Baca juga: Masuk dalam Daftar Forbes, Ini 16 Anak Muda Indonesia yang Mendunia
Heni mengisahkan dirinya lahir di dusun yang berada di pelosok Ciamis, Jawa Barat, tepatnya Dusun Rancatapen. Di kampungnya, tingkat pendidikan rendah. Di masanya, sekolah yang paling tinggi hanya SMP, tidak ada yang mencapai menjadi sarjana. Semua miskin dan berakhir sebagai buruh tani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Farhan/detikcom |
Lahir sebagai anak keempat dari keluarga miskin, Heni kecil sudah dicoba akan perceraian kedua orangtuanya. Ayahnya pergi meninggalkan dia dan sang ibunda, kemudian menikah lagi dengan perempuan lain. Heni kecil bahkan tidak sempat melihat dan mengenali wajah ayahanda.
Setelah ditinggal suami, ibunda Heni meneruskan hidup membesarkannya dengan bertani yang hanya memiliki satu petak sawah. Ibunda Henilah pencari nafkah utama keluarga saat itu, harus menghidupi Heni juga kedua orangtuanya alias kakek-nenek Heni.
Baca juga: Heni Sri Sundani, Mantan TKW yang Mendunia Karena Peduli Pada Anak Petani
Berkeinginan untuk mendapatkan nafkah yang lebih, ibunda Heni merantau ke Bekasi untuk bekerja di suatu pabrik pensil di kawasan Bantar Gebang. Sedangkan Heni, dititipkan ibundanya kepada kedua orangtuanya di Dusun Rancatapen. Semua itu dilalui Heni sejak belum genap berusia 1 tahun.
Β
5 Tahun berselang, kakek Heni meninggal dunia. Tinggallah Heni dan beberapa saudaranya diasuh oleh neneknya yang buta huruf dan terlahir tanpa jari kaki dan tangan.
Masuk usia sekolah dasar (SD) di SDN Beber 3 Ciamis, Heni sering ditegur guru dan diolok teman-temannya lantaran salah memakai seragam. Ibundanya jarang menengok Heni, namun tetap mengirimkan sejumlah uang untuk biaya hidup dan sekolah Heni dan saudara-saudaranya.
"Orangtua nggak pernah datang di acara sekolah. Ambil rapor sampai lulusan. Sekolah jauh, harus jalan kaki sekitar 30 menit. Sepatu sampai rusak, bolong-bolong. Kalau hujan jalan becek, licin, sepatu kotor hingga tembus ke kaki," demikian kisah Heni kala ditemui detikcom di Kebun Raya Bogor, Minggu (28/2/2016) lalu.
Karena hidup berkekurangan, Heni kecil juga jarang jajan saat SD dan lebih sering menahan lapar lantaran tak ada uang. Pulang sekolah, Heni tak berpangku tangan, dan melanjutkan mencari kayu bakar di hutan.
Baca juga: Wajah 16 Anak Muda Indonesia Yang Masuk Daftar Forbes
"Buat masak. Sisanya dijual ke tetangga. Uangnya buat makan dan beli buku belajar. Aku yang cari kayu karena nenek lagir tanpa jari kaki dan jari tangan. Makanya jadi harus kerja keras. Buat sekolah, buat hidup nenek," kenang Heni yang memakai gamis biru muda serta jilbab bernuansa biru-ungu ini.
"Masa kecilku sedih. Miskin, ibu pergi ke Bekasi, ayah pergi dan menikah lagi," tutur dia.
Farhan/detikcom |
Selulus SD, satu kakaknya sudah menikah dan keluar dari rumah neneknya. Meski tetap tak punya uang, Heni kecil nekat mendaftar ke SMP.
"Beruntung dapat beasiswa. Mau putus rantai mata rantai kemiskinan dan kebodohan warisan keluarga, warisan anak-anak di dusun," celoteh Heni.
Serba terbatas, Heni tak mau menyia-nyiakan kesempatan bersekolah sekecil apapun. Terbukti, tekat kuatnya untuk belajar ini selalu diganjar ranking sejak SD hingga SMP di SMPN 1 Cimaragas.
"Dapat beasiswa untuk sekolah di SMK. Beasiswa cuma membiayai setengah keperluan sekolah, sisanya aku membantu teman jual jilbab, pulpen, keripik, es dan lainnya. Sampe akhirnya lulus SMK. Bangga, karena di dusun jarang yang sampe SMA," tutur Heni yang harus berjalan kaki 1 jam ke sekolah saat SMA.
Lulus SMKN 1 Banjar jurusan Akuntansi, Heni ingin kuliah. Lagi-lagi karena terkendala biaya. "Ibu udah nggak kerja di Bekasi, ada di rumah urus nenek yang udah sakit-sakitan," tuturnya.
Bagaimana Heni meneruskan mimpi bersekolahnya? Nantikan di artikel selanjutnya. (nwk/mad)












































Farhan/detikcom
Farhan/detikcom