3 Orangutan Mati Terbakar, LSM COP Dorong Polres Bontang Cari Tersangka

Tragedi Orangtuan Terbakar

3 Orangutan Mati Terbakar, LSM COP Dorong Polres Bontang Cari Tersangka

Nograhany Widhi K - detikNews
Selasa, 01 Mar 2016 17:22 WIB
3 Orangutan Mati Terbakar, LSM COP Dorong Polres Bontang Cari Tersangka
Foto: Istimewa (via Facebook Centre for Orangutan Protection/COP))
Jakarta - Centre for Orangutan Protection (COP) mendorong Polres Bontang memeriksa kasus matinya 3 orangutan yang terbakar hingga didapatkan tersangka. COP meminta polisi memeriksa saksi ahli dalam bidang orangutan.

"Kami mendukung penuh kepolisian, Polres Bintang untuk melakukan penyidikan hingga ditetapkan tersangka dengan bukti-bukti yang ada. Saya kira Polres Bontang berpengalaman di situ," tegas Direktur Operasional COP Ramadhani saat berbincang dengan detikcom, Selasa (1/3/2016).

COP terus menjalin kontak dengan Polres Bontang. COP memperoleh informasi bahwa polisi sudah memeriksa 9 saksi. Meski demikian, COP belum puas dan berharap polisi memanggil saksi ahli.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dengan mendapat keterangan saksi ahli ada beberapa keterangan yang bisa jadi kesimpulan, sudut pandang kepolisian bisa berubah. Sudut pandang polisi kan orangutan terbakar. Mungkin diminta keterangan saksi ahli soal kehidupan sosial orangutan, kenapa orangutan ada di situ. Dikroscek dengan saksi lain, kronologi pembakarannya seperti apa," jelas Dhani.

Pasalnya, sudah menjadi kebiasaan orangutan bila melihat asap atau api, orangutan akan lari.

"Selama di situ ada pohon, dia tetap lari, dari pohon ke pohon. Kalau di tanah, lumayan cepat juga. Makanya, perlu dipanggil beberapa saksi ahli perilaku orangutan, karena perilaku orangutan di Kalimantan mulai berubah. Yang biasanya di atas (pohon) sekarang kebanyakan di bawah," imbuh dia.

Kawasan Bontang, tambah Dhani, selama ini cukup minim konflik antara manusia dengan orangutan. Pasalnya, di sana ada Taman Nasional Kutai dan kawasan hutan lindung Bontang. Namun demikian, ternyata ada saja warga yang diduga membakar lahan hingga membuat 3 orangutan itu mati.

"Kami beberapa tahun lebih banyak konsen ke wilayah konflik tinggi dengan perkebunan segala macam. Bontang selama ini relatif aman saja, tak ada konflik. Karena di sana sudah di-cover Taman Nasional Kutai dan hutan lindung Bontang, konflik tidak terlalu tinggi. Tapi masih tetap ada saja yang bakar lahan," sesalnya.

COP terlibat dalam autopsi orangutan yang terbakar itu dengan menyediakan dokter hewan dan memeriksa serta menyatakan penyebab kematiannya. COP terlibat karena diminta Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim setelah pada Minggu 21 Februari 2016 menerima informasi ada orangutan mati terbakar.

"Sekarang kami di belakang Polres. Kami support Polres Bontang, makanya keterangan beberapa saksi masyarakat harus dikroscek ulang dengan saksi ahli, karena kebiasaan orangutan kalau melihat api dan asap itu lari. Ini sampai terbakar, ada apa ini?" tegas Dhani.

Ketiga orangutan yang mati terbakar itu menjadi perhatian internasional. Media asing memuat sejumlah foto orangutan betina berusia 20 tahun, 10 tahun dan bayi kurang dari 1 tahun itu, yang mengenaskan tersebut.
Halaman 2 dari 1
(nwk/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads