DetikNews
Selasa 01 Maret 2016, 16:42 WIB

Kisah Awan Hitam dan Konflik Rumah Tangga Brigadir Petrus

Herianto Batubara - detikNews
Kisah Awan Hitam dan Konflik Rumah Tangga Brigadir Petrus Foto: Dok.Polda Kalbar
Jakarta - Brigadir Petrus Bakus, anggota Satuan Intelkam Polda Kalbar menghadapi ancaman hukuman 20 tahun penjara. Polisi yang memutilasi dua anaknya ini mengaku mendapat bisikan sehingga melakukan perbuatan keji itu. Petrus kasusnya tengah diproses. Penyidik Polda Kalbar nanti akan menyerahkan ke hakim keputusannya.

Menurut Kapolda Kalbar Brigjen Arief Sulistyanto, Selasa (1/3/2016) Brigadir Petrus akan menjalani pemeriksaan kejiwaan. Namun, tim juga melakukan pemeriksaan saksi-saksi.

"Jadi menurut istrinya, memang sebelumnya ada konflik rumah tangga," tutur Arief.

Arief lalu bercerita hasil penyidikan yang didapatkan penyidik. Suatu hari, istrinya menemukan SMS diduga dari perempuan. Nah, mulai dari SMS itu terjadi keributan dari keduanya. Bibit kecurigaan muncul.

"Petrus ini sampai meminta anak buahnya mengikuti istrinya. Istrinya ini kan terima kue pesanan," imbuh Arief.

Konflik rumah tangga ini pun sampai ke Romo, keduanya merupakan penganut Katolik. Ada empat kali Petrus berkonsultasi. Nasihat Romo agar Petrus dan istrinya sering berkomunikasi.

Selain urusan rumah tangga, ternyata juga Petrus pernah curhat ke rekannya yang bernama Solikin. Pada 21 Februari lalu, Petrus mengutarakan kalau dia tidak bisa masuk karena sakit, kemudian juga hari selanjutnya.

"Petrus cerita kalau dia dikelilingi awan hitam, dan ada sekitar 20 orang pria berbadan tegap yang mengikuti dirinya," imbuh Arief.

Penyidik mendapatkan cerita dari Solikin dan juga dari istri Petrus. Beberapa hari sebelum kejadian pembunuhan, Petrus menurut istrinya marah-marah sendiri dan mengaku ada yang mengikuti.

Di saat itu juga sekitar jelang akhir Februari, Petrus datang menemui Romo-nya dan meminta agar dipasang spanduk 'Terjadilah Padaku Menurut Perkataanmu'.

"Saat itu Romo-nya juga melihat sudah ada yang aneh. Dan tulisan seperti itu ada ditemukan di secarik kertas di rumah Petrus saat dilakukan olah TKP," urainya. Polisi belum tahu makna tulisan itu.

"Sebelumnya anak korban juga pernah menyampaikan ke ibunya, kalau ayahnya ingin membunuh si ibu. Karena perkataan anak kecil, ibunya anggap biasa," tambah Arief.

Hingga akhirnya terjadi peristiwa pembunuhan pada Jumat (26/2) dini hari. Fabian (5) dan Amora (3) dibunuh dan dimutilasi. Saat hendak membunuh istrinya, perempuan itu meminta diambilkan air. Petrus mengambil air, dan istrinya pergi meminta pertolongan.

"Di penjara dia meracau melaksanakan pembunuhan atas perintah Tuhan, anaknya sudah di surga sudah menyatu dengan dirinya," imbuh Arief.

Penyidik baru akan memeriksa Petrus bila kejiwaannya sudah tenang. Psikiater akan dilibatkan. "Kami sudah pastikan yang bersangkutan negatif narkoba," tutur Arief.

Namun apakah Petrus belajar sesuatu ilmu sehingga berbuat seperti itu, Arief belum bisa memastikan. Pastinya polisi menemukan kayu bakar juga di sekitar rumah Petrus yang ternyata sengaja dikumpulkan. Jadi, Petrus akan bakar diri setelah membunuh dua anaknya dan istrinya.

"Penyidik masih mengumpulkan saksi-saksi dan melengkapi berkas," tutup dia.
(dra/dra)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed