Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan Irene Camelyn Sinaga menjelaskan, kebijakan itu diambil agar langit Palembang dan sekitarnya tak tertutup polusi asap. "Menurut masukan dari banyak fotografer dan awak media lintas negara, keindahan gerhana matahari total tidak bisa dinikmati sempurna jika terhalang asap pekat," kata Irene kepada detikcom.
Surat edaran penghentian operasi sementara itu akan diteken Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin dan segera disebarkan. Menurut Irene, kepentingan media dan turis mancanegara memang didahulukan pada hari gerhana untuk kepentingan jangka panjang Sumatera Selatan.
Kepentingan mereka, kata Irene, sebisa mungkin diakomodir agar nyaman selama berada di Palembang. Bahkan Pemprov juga membantu menyiapkan kebutuhan mereka di lokasi-lokasi yang dipilih oleh media dan turis asing. "Kalau mereka sudah terfasilitasi, mereka akan memberikan kabar baik tentang Indonesia ke mata dunia," ujarnya.
Bagi Irene, gerhana matahari total merupakan berkah tersendiri bagi Sumatera Selatan. Sebab biasanya wisatawan tak banyak datang pada Maret karena bukan musim liburan. Karena ada gerhana, Irene memprediksi ada kenaikan jumlah wisatawan hingga seratus persen dibandingkan Maret 2015.
Demi kenyamanan turis asing dan lokal, Irene mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan kepolisian untuk pengamanan. Polisi juga akan membantu sejumlah pengalihan arus di seputar kota Palembang.
Pada hari gerhana, Jembatan Ampera akan ditutup selama 12 jam untuk rangkaian acara gerhana. Kawasan Jembatan Ampera dan sekitarnya akan jadi pusat pengamatan gerhana di Palembang.
(Baca juga: Penutupan Pertama Jembatan Ampera Sejak Diresmikan Sukarno)
(okw/slh)











































