Pada Selasa (11/2/2016), suami istri, Herman (40) dan Irma (40), dan 2 anaknya tiba di rumah dinas Dedi yang berada di Pendopo Kabupaten. Mereka dikabarkan menelantarkan anak. Anak keenam meninggal karena diduga mengalami gizi buruk.
Kedatangan keluarga tersebut didampingi oleh Kepala Desa (Kades) Sukatani, Asep Sumpena. Mereka hendak mengklarifikasi soal dugaan anak keenam mereka yang baru berumur empat bulan meninggal karena gizi buruk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asep mencontohkan, sudah lama pihaknya akan melakukan perbaikan rumah Herman-Irma dengan program bedah rumah namun hal itu selalu ditolak. Selain itu bantuan berupa beras dan susu untuk anak selalu diberikan kembali pada tetangganya.
Soal dugaan gizi buruk, Asep pun menampiknya. Pasalnya sejak awal lahiran keluarga tersebut selalu diberi bantuan untuk memenuhi gizi sang anak. Bahkan saat sang anak akan dibawa ke dokter untuk diperiksakan kedua orang tua tersebut menolaknya.
"Sampai waktu ditolak buat dibawa berobat, bidan yang bawanya juga sampai nangis gak tega liat anak itu. Bahkan waktu lahiran juga mereka tidak mau dibantu, cukup berdua saja lahirannya di rumah," katanya.
Foto: Tri Ispranoto/detikcom |
Bupati Dedi heran dengan pasangan yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung tersebut. "Saya awalnya mau marahin Kades sama Camat karena melakukan penelantaran. Tapi kalau seperti ini, orangnya tidak mau dibantu, pemerintah bisa apa," ucap pria yang akrab disapa Kang Dedi itu sambil tepuk jidat tanda kebingungan.
Dalam kesempatan itu, Dedi kembali menawarkan bantuan perbaikan rumah senilai Rp 25 juta dan bantuan bahan pokok dengan syarat mau mengikuti program Keluarga Berencana. Namun lagi-lagi hal itu ditolak. Dan Dedi pun kembali tepuk jidat. (trw/trw)












































Foto: Tri Ispranoto/detikcom