Jabbar/detikcom |
Hal itu mengemuka dalam acara "Gerakan Mengajar 1.000 Guru PAUD dan TK" yang digelar di Aula gedung C Walikota Jakarta Timur, Jl Sentra Timur, Pulogebang, Cakung, Selasa (1/3/2016). Acara dibuka oleh Sekretaris Kota Administrasi Jaktim Junaedi mewakili Wali Kota Jaktim Bambang Musyawardana. Tema acara Mempersiapkan Pendidikan Anak Usia Dini dalam Rangka Menyambut Indonesia 2045. Sebanyak 400 guru menjadi peserta kegiatan tersebut.
Acara diselenggarakan Sekolah Kids Republic Jakarta Timur dari Yayasan Batin Cahaya Bangsa bekerja sama dengan Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Kota Administrasi Jakarta Timur. Gerakan Mengajar 1.000 Guru (GMSG) dibentuk September 2015. Tujuannya untuk mempersiapkan pelatihan tenaga pendidik dan kependidikan PAUD dan TK.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi anak bisa dengan cepat belajar ketika masih kecil. Inteligensi manusia berkembang pada masa keemasan yaitu umur 0-5 tahun," kata dia.
Menurut Zita, pada masa itu penting bagi anak melatih sensor motoriknya karena akan berpengaruh juga pada perkembangan otak secara fisik maupun fungsinya.
Jabbar/detikcom |
Pada masa ini, lanjutnya, metode pengajaran juga harus dibenahi. Metode seperti menghafal, mendikte, mencatat sudah tidak lagi relevan di zaman sekarang. Yang dibutuhkan yakni metode pengajaran yang dua arah atau berdiskusi, anak dibebaskan untuk menyampaikan pendapat.
"Indonesia sudah saatnya memperbarui metode pendidikan anak usia dini. Tujuannya agar anak-anak mampu bersaing di masa depan," tutur dia.
Zita mengadopsi metode PAUD dari Maria Montessori. Montessori merupakan pendidik dari Italia di akhir abad 19 dan awal abad 20. Metode yang ditekankan yakni pentingnya penyesuaian dari lingkungan belajar anak dengan tingkat perkembangannya serta aktivitas fisik dalam menyerap konsep akademik dalam keterampilan fisik.
"Ciri lainnya yakni adanya pembinaan, peralatan otodidak untuk memperkenalkan berbagai konsep," ucap Zita.
(nwy/nrl)












































Jabbar/detikcom
Jabbar/detikcom