Bicara Lagi Tentang Peringatan Serangan Umum 1 Maret, Masih Ada yang Ingat?

Bicara Lagi Tentang Peringatan Serangan Umum 1 Maret, Masih Ada yang Ingat?

Ayunda Windyastuti Savitri - detikNews
Selasa, 01 Mar 2016 10:11 WIB
Bicara Lagi Tentang Peringatan Serangan Umum 1 Maret, Masih Ada yang Ingat?
Foto: Bagus Kurniawan
Jakarta - Peristiwa serangan umum 1 Maret 1949 di masa orde baru selalu meriah diperingati. Bahkan anak-anak sekolah sampai diwajibkan menonton film mengenai peristiwa itu.

Era berganti, dan reformasi datang. Serangan umum 1 Maret yang biasa bincangkan pun sirna. Banyak pembahasan dan diskusi mengenai peristiwa itu. Aslinya, memang peristiwa serangan 1 Maret itu ada, tetapi sosok Soeharto yang digambarkan sebagai orang yang pegang peranan ini yang perlu dipertanyakan.

Bermaksud me-refresh mengenai peristiwa itu, sejarawan Asvi Warman Adam menyampaikan, serangan 6 jam ke Yogyakarta itu menjadi titik pangkal pembuktian kepada dunia, bahwa Indonesia dan TNI masih ada.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ide awal serangan ini dari HB IX," jelas Asvi, Selasa (1/3/2016).

Serangan itu direncanakan dan dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III dengan mengikutsertakan beberapa pucuk pimpinan pemerintah sipil berdasarkan instruksi dari Panglima Divisi III Kol. Bambang Sugeng. Soeharto hanya menjadi pelaksana di lapangan.

"Dengan menduduki Yogya 6 jam membuktikan tentara kita masih ada. Jadi pemerintah RI masih eksis walau Presiden ditawan," terang dia.

Serangan umum 1 Maret itu dilakukan setelah pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresi militer II. Soekarno-Hatta ditawan, kemudian pemerintah Indonesia membentuk PDRI di Bukittinggi oleh Sjafrudin Prawiranegara.

"Belanda mengkampanyekan RI sudah tidak ada karena Presiden sudah ditawan. Sultan HB IX dengar radio bahwa akan sidang PBB. Oleh sebab itu perlu dilakukan suatu gerakan untuk buktikan RI masih eksis. HB IX tulis surat kepada Sudirman dan Sudirman setuju," imbuh dia.

Hingga kemudian, lahirlah aksi serangan umum 1 Maret, di mana saat itu Soeharto menjadi pelaksana.

"Ibu kota Yogya dikuasai Belanda. Belanda kampanyekan RI sudah kalah. Kita mau perlihatkan dengan cara gerilya ini kita masih bertahan. Ini didukung dengan diplomasi diplomat kita di India dan PBB. Serangan ini berhasil karena Belanda kemudian mau berunding dengan RI.
Belanda kemudian mengembalikan Presiden ke Yogya. PDRI menyerahkan mandat kepada Presiden. Perundingan berikutnya KMB di negeri Belanda," tutup dia.

Bagaimana menurut Anda, sudah segar soal peristiwa serangan 1 Maret? (aws/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads