Ancaman Jokowi, Kebakaran Hutan, dan Orangutan

Ancaman Jokowi, Kebakaran Hutan, dan Orangutan

Indah Mutiara Kami - detikNews
Selasa, 01 Mar 2016 08:24 WIB
Ancaman Jokowi, Kebakaran Hutan, dan Orangutan
Foto: Istimewa (via Facebook Centre for Orangutan Protection/COP))
Jakarta - Masih segar dalam ingatan bencana kabut asap di Indonesia jelang akhir 2015 lalu. Jambi, Riau, Kalimantan, Sumatera Selatan, dan sampai ke negeri jiran, kabut asap menyerang. Setiap pagi warga mesti memakai masker dan berdoa agar hujan turun.

Beranjak ke 2016, tepatnya pada 18 Januari di Istana Negara, Presiden Jokowi dengan tegas meminta agar seluruh aparat bekerja mencegah pembakaran lahan.

"Tahun 2016 kita harus betul-betul belajar dari tahun 2015. Kita harus tangani tahun ini lebih baik, lebih sigap, lebih di pencegahan. Jangan biarkan api membesar. Tidak ada pilihan lain," ujar Jokowi di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (18/1).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat itu Jokowi juga mengatakan, pejabat di daerah mulai dari TNI, Polri hingga pemerintah daerah harus turun ke lapangan.

"Apabila terjadi di daerah, jangan tunggu waktu hingga berminggu-minggu, berbulan-bulan. Dalam kurun hari langsung, minta bantu, dan jelas arahnya. Nanti diarahkan langsung oleh Menko. Hilangkan ego sektoral, sehingga pencegahan bisa lebih efektif. Jangan hanya memantau dari belakang meja. Saya minta lihat dan turun ke lapangan," tegas Jokowi.

(Lebih lengkap baca: Jokowi Tegaskan 2016 Tidak Boleh Ada Kebakaran Hutan dan Lahan Lagi).

Tak sampai di situ, Jokowi juga menebar ancaman. Aparat yang tidak bisa mencegah pembakaran lahan dan kebakaran hutan terancam dicopot.

"Saya sudah janjian sama Kapolri dan Panglima TNI, ada reward and punishment. Yang terbakar semakin banyak, semakin gede, ganti, copot! Dari atas sampai ke bawah. Yang baik, tentu saja dipromosi. Ini kita kerja betul-betul kerja. Karena kemarin kita hampir di tiap lapangan. Jika pelaksanaan kurang, sampaikan ke BNPB. Karena BNPB enggak punya pasukan. Yang punya pasukan di TNI dan Polri," tegas Jokowi.

(Baca juga: Jokowi: Pangdam dan Kapolda Tak Mampu Atasi Kebakaran Hutan, Copot!).

Rasanya omongan presiden baru beberapa saat saja. Tetapi akhir Februari, Kepala Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengabarkan adanya titik api di sejumlah daerah. Kebakaran hutan datang lagi, dan pemicunya sudah bisa ditebak, oknum yang membakar lahan.

"Berdasarkan pantauan satelit Modis dengan sensor Terra dan Aqua pada Sabtu (27-2-2016) terdapat 69 hotspot dari kebakaran hutan dan lahan. 69 hotspot ini tersebar di Kalimantan Timur 38 (Kab Kutai Kartanegara 8, Kutai Timur 30), Kalimantan Utara 1, Papua 2, Sulawesi Selatan 4, Aceh Selatan 3, Riau 14 (Kab Bengkalis 13, Siak 1) dan Sumatera Utara 6," jelas Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Sabtu (27/2).

"Sengaja dibakar oknum masyarakat untuk pembukaan lahan. Kebakaran hutan dan lahan di Desa Puan Cepak, Kec Muara Kaman Kab Kutai Kartanegara dilakukan oleh oknum masyarakat dengan alasan hutan bebas dan untuk buka lahan baru," tutur Sutopo.

(Baca juga: Awas Kabut Asap! Satelit Pantau 69 Titik Api di Kaltim, Riau, dan Sumut).

Kabut asap memang belum terjadi pada 2016, dan semoga saja tidak. Tetapi kebakaran lahan sudah memakan korban, ada tiga orangutan hangus terpanggang. Bahkan dunia internasional menyorot soal ini.

"Terbakarnya itu sepekan lalu. Waktu itu dapat informasi ramai di media sosial, di Facebook. Ada seorang warga yang hari pertama sudah melakukan dokumentasi foto lalu share," tutur Direktur Operasional Centre for Orangutan Protection (COP) Ramadhani yang dikonfirmasi detikcom, Senin (29/2).

3 Orangutan itu dilaporkan warga mati pada Minggu (21/2/2016) pagi. Pada sore hari COP langsung ke lapangan mengecek ke tempat orangutan mati terbakar.

"Ternyata waktu itu kami tanggapi ke lapangan dengan teman-teman BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam-red). Ternyata sudah dikubur oleh Balai Taman Nasional Kutai dan Polresta Bontang," imbuh Dhani, panggilan akrabnya.

(Baca juga: 3 Orangutan Mati Terbakar di Kaltim Jadi Perhatian Dunia).

Kisah kebakaran hutan, kabut asap, dan orangutan seperti menjadi kisah yang terus berulang. To be continued, tak pernah tamat. Harapan dari segenap masyarakat tentu tinggi pada Jokowi selaku kepala negara. Pak presiden, tolong akhiri bencana kebakaran hutan dan lahan. (dra/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads