"Semuanya betina, penyebab kematian tidak ada faktor kekerasan atau patah tulang atau tembakan. Dipastikan memang 80 persen adalah terbakar, luka bakarnya 80-90 persen," jelas Direktur Operasional Centre for Orangutan Protection (COP) Ramadhani yang dikonfirmasi detikcom, Senin (29/2/2016).
Dhani, sapaan akrabnya, mengatakan autopsi dilakukan bersama antara Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim dan Polresta Bontang. Autopsi dilakukan pada Selasa (23/2/2016) atau 2 hari setelah laporan orangutan yang mati terbakar itu diterima COP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(Foto: COP via FB) |
Menurut Polresta Bontang, lahan yang dibakar itu memang lahan pribadi dan sengaja dibakar untuk membuka lahan. Awalnya, imbuh Dhani, ini memang dianggap kasus biasa, namun setelah viral di Facebook, Kepala BKSDA Kaltim serta Kapolresta Bontang meminta autopsi ulang orangutan yang telah dikubur itu.
"Dikuburnya 15 meter dari lokasi terbakar. Yang mengubur pihak Taman Nasional Kutai dalam 1 lubang. Setelah dibongkar kembali untuk memastikan apakah betul orangutan. kemudian mencari tahu penyebab kematian apa terjadi, kekerasan atau terbakar. Setelah dilakukan pengangkatan, semua orangutan betina, 3 individu orangutan betina, remaja 10 tahun, kedua 20 tahun dari perkiraan pemeriksaan gigi dari tekstur gigi, ketiga itu bayi di bawah 1 tahun," jelas Dhani.
(Foto: COP via FB) |
Kawasan itu, menurut Dhani, memang lahan pribadi yang masih berupa hutan. Jaraknya dari Taman Nasional Kutai sekitar 10 km dan 500 meter dari lokasi orangutan ditemukan tewas adalah lahan warga yang berbentuk hutan.
"Tanggal 24 Februari kami coba masuki hutan terdekat di lokasi terbakar, memang ditemukan beberapa sarang orangutan, 5-10 sarang umurnya lebih dari 1 bulan," tuturnya.
Halaman 2 dari 1











































(Foto: COP via FB)
(Foto: COP via FB)