Senjakala Kalijodo dan Galau Penghuninya Soal Mata Pencaharian

Senjakala Kalijodo dan Galau Penghuninya Soal Mata Pencaharian

Kartika Sari Tarigan - detikNews
Sabtu, 27 Feb 2016 16:03 WIB
Senjakala Kalijodo dan Galau Penghuninya Soal Mata Pencaharian
Foto: Kartika Sari Tarigan
Jakarta - Warga kalijodo sudah mulai berkemas-kemas meninggalkan tempat yang selama ini terkenal dengan hiruk pikuk dunia malam itu. Sebagian besar dari mereka memilih untuk membongkar sendiri bangunan rumahnya, demi menyelamatkan barang-barang yang masih bisa digunakan.

Johan (35), salah seorang warga Kalijodo, mengaku sudah pasrah dan siap pindah dari rumahnya. Rumah yang sudah dia tempati hampir 17 tahun, sudah 40 persen selesai dibongkar.

"Bongkar udah 2 hari yang lalu, kita tinggal di bawah itu kan masih bisa ditidurin. Paling nanti hari minggu saya pindah, pindah ke Marunda. Itu masih diundi tapi katanya sih udah dapet ibu saya," kata dia di depan rumahnya, Jalan Kepanduan II, Penjaringan, Jakarta Utara Sabtu (27/2/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Johan mengaku kebingungan nantinya akan melakukan pekerjaan apa setelah pindah. Selama ini, dia membuka warung sembako di rumahnya.

"Selama ini saya jualan sembako di sini, ya nanti di sana kalau boleh dagang ya saya dagang. Kalau enggak boleh ya enggak tahu mau kayak bagaimana," kisah Johan.


Dia mengaku tengah menunggu perongsok yang bersedia membayar hasil bongkaran rumahnya dengan harga yang sesuai. Sejauh ini, menurut Johan beberapa perongsok menawar rendah kayu-kayu rumahnya.

"Saya bongkarin, ini masih nungguin ada yang mau beli. Tadi udah ada yang nawar tapi murah maunya cuma bayarin 15 ribu kayu-kayunya. Kalau harga murah segitu paling ya saya cuma dapat satu juta setengah," ucap Johan.

"Itu kalau yang udah dibongkar doang. Kalau yang di bawah banyak besi-besinya belum diambilin, ya paling nanti dijual satu kilo Rp 4 ribu. Kalau besi gampang jualnya, kalau kayu kan agak susah," sambung dia.


Selain Johan, warga lainnya juga tampak sudah mulai membongkar sendiri rumahnya. Mereka juga menjual kayu-kayu serta besi hasil bongkaran rumah kepada perongsok.

"Saya bongkar sendiri kalau kemarin sih dibantuin tukang tapi kemarin doang, tukang Rp 150 ribu satu hari," ucap seorang warga. (tor/tor)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini