DetikNews
Sabtu 27 Februari 2016, 10:45 WIB

Kasus Polisi Mutilasi Anak, Polri Disarankan Tempatkan 1 Psikolog di Tiap Polres

Aditya Mardiastuti - detikNews
Kasus Polisi Mutilasi Anak, Polri Disarankan Tempatkan 1 Psikolog di Tiap Polres Foto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo
Jakarta - Guru Besar Sosiologi UI, Bambang Widodo Umar menyarankan agar Polri menempatkan seorang psikolog di setiap Polres. Kehadiran psikolog dianggap penting sebab tes kejiwaan personel Polri harus dilakukan rutin, bukan hanya saat tes masuk kepolisian.

"Ada tes psikologi untuk melihat ketangguhan, ketabahan, keuletan, kecermatan, kehati-hatian baik untuk tingkat bintara hingga perwira. Itu sekali saja pada saat masuk. Cuma masalahnya waktu tes itu bisa saja kemungkinan-kemungkinan nakal, main-main. Kadang-kadang ada yang kurang memenuhi syarat bisa diterima juga," jelas Bambang saat dihubungi Jumat (2/2/2016) malam.

Psikolog menurut Bambang punya peran penting untuk memberikan pendampingan. Hal ini penting agar polisi tidak memutuskan berbuat atau tidak berbuat sesuatu tanpa pertimbangan matang atau akal sehat.

"Saya sudah berkali-kali menyarankan ada psikolog untuk memberikan guidance counseling terutama untuk (anggota) yang di lapangan. Misalnya selama 6 bulan sekali dipanggil seluruh anggota di lapangan dipanggil, diberikan perkembangan kejiwaan dia. Jadi bukan tes lagi, mungkin arahan-arahan dari psikolog karena tugas-tugas berat, masalah keluarga, dan itu bisa dilihat dengan melihat tes tadi dan diberikan arahan-arahan dari psikolog supaya dalam bekerja begini-begitu," sambungnya.

Tanpa adanya pendampingan oleh psikologi, personel Polri rentan terhadap kondisi stres karena pekerjaan berat yang diemban. "Kalau pimpinannya pejabat terasnya tidak memikirkan hal itu, guidance counseling tidak ada ya akan begini terus endingnya," katanya.

"Yang bikin stres polisi tugas-tugas polisi itu kan siang-malam , kalau di kepolisian itu 24 jam itu harus siap meskipun dia dibagi dalam 3 tahapan/shift kalau ada perintah mendadak itu harus siap. Pekerjaannya itu macam-macam itu problem keamanan, ketertiban, percekcokan. Kemudian pengendalian dari atasan bisa kurang efektif atau kurang tepat sehingga kadang ada yang kerja berat-berat terus, di sisi lain masalah pembinaan ada anak emas, anak tiri dan macam-macam problem terutama pembinaan personel," paparĀ  Bambang.

Hadirnya seorang psikolog di Polres menurut dia sudah lebih dulu dilakukan di luar negeri. Sebab pembinaan personel tak bisa hanya diserahkan kepada orang yang bersangkutan.

"Tapi harus ada kendali-kendali selain dari atasan itu guidance counseling. Harusnya tiap polres itu ada 1 orang, di luar negeri pakai, di Malaysia ada, di Singapura ada itu tugasnya yang nggak begitu berat. Indonesia itu cukup berat beban pekerjaannnya, belum lagi persoalan pribadi dia." kata Bambang.


(fdn/fdn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed