Yulianis Beberkan Isi Brankas Perusahaan Nazaruddin

Rina Atriana - detikNews
Rabu, 24 Feb 2016 14:44 WIB
Muhammad Nazaruddin/Foto: Rachman Haryanto-detikcom
Jakarta - Eks Wakil Direktur Keuangan Permai Group, Yulianis membeberkan sumber keuangan yang dimiliki perusahaan milik mantan bosnya, Muhammad Nazaruddin. Uang dari hasil sejumlah proyek pemerintahan ini disimpan dalam brankas khusus.

Yulianis saat bersaksi dalam sidang lanjutan Nazaruddin mengatakan ada 4 brankas yang dimiliki Permai Group. Brankas tersebut terdiri dari brankas X dan brankas IN yang digunakan untuk menyimpan uang selain di rekening bank. 

"Pada tahun 2009 tidak ada pemisahan brankas. Tapi tahun 2010 saya diperintahkan Ibu Neneng (istri Nazar) untuk memisahkan uang tersebut," kata Yulianis yang tampil bercadar saat bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jl Bungur Besar, Jakpus, Rabu (24/2/2016).

Yulianis menjelaskan, brankas IN berisi uang operasional untuk keperluan sehari-hari yang bersumber dari APBN, atau proyek dengan kementerian-kementerian. Sedangkan brankas X berisi selisih kontrak X dan IN dari proyek-proyek yang dikerjakan PT Permai Group.

"Misalnya di setiap kontrak APBN kita ada kontrak dengan vendor, jadi ada 2 kontrak, pertama 40 persen, atau yang kita mau, dan yang 7 persen yang dipublish," sambung Yulianis.

"Misal kita bayar vendor Rp 1 miliar, ternyata sebenarnya kita hanya membayar Rp 700 juta. Sisanya masuk dalam selisih yang masuk ke brankas X," jelasnya.

Yulianis menyebut, perusahaan-perusahaan Nazar mayoritas bergerak di bidang konstruksi, ada juga di bidang money changer dan sektor jasa wisata. Dalam mencari dana, khususnya perusahaan di bidang konstruksi yaitu dengan mencari proyek di kementerian-kementerian.

"Untuk proyek, misalnya Kamenpora lah, kita menghubungi Pak Wafid (Wafid Muharam), Pak Paul Nelwan. Itu perintahnya dari Pak Nazar. Nantinya akan ada arahan dari Pak Nazar," tutur Yulianis.

Beberapa perusahaan kemudian mengikuti lelang proyek yang sebetulnya semuanya merupakan perusahaan milik Nazar.

"Panitia lelang biasanya awalnya tidak tahu bahwa itu perusahaan Pak Nazar semua, tapi ketika telah menang tahu juga," ungkap Yulianis.

Jika perusahaan-perusahaan milik Nazar tak mampu mengerjakan sendiri proyek yang diberikan kementerian saking banyaknya, Nazar bekerja sama dengan perusahaan pihak lain dengan pihak tersebut membayar fee sejumlah tertentu kepada Nazar.

"Ada perusahaan-perusahaan itu mendapat pekerjaan dari Pak Nazar. Secara kasarnya seperti itu. Perusahaan-perusahaan itu membayar fee kepada Pak Nazar atas fee yang sudah dinegosiasikan dari awal," terang Yulianis.

"Kalau mau ngerjain, fee-nya itu harus sekian. Realisasinya antara 7,5-22 persen. Targetnya sih maunya semuanya 22 persen," imbuhnya.

Dalam persidangan hari ini, Jaksa pada KPK juga menghadirkan mantan Staf Keuangan PT Permai Group Oktarina Puri, mantan karyawan PT Permai Group Budi Witarsa, dan seorang Notaris bernama Berta Herawati. Jaksa KPK Kresno Anto Wibowo selanjutnya bertanya kepada Yulianis mengenai aliran uang di PT Permai Group.

Jaksa penuntut umum mendakwa Nazar dengan 3 dakwaan. Pertama, Nazar didakwa menerima hadiah berupa 19 lembar cek yang jumlah seluruhnya senilai Rp 23.119.278.000 dari PT Duta Graha Indah (DGI) dan uang tunai Rp 17.250.750.744 dari PT Nindya Karya yang diserahkan oleh Heru Sulaksono.

Dakwaan kedua dan ketiga yaitu terkait dugaan pencucian uang. Nazar didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang mencapai Rp 627,86 miliar selama 2010-2014. Selain itu ia juga didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang Rp 83,599 miliar dalam kurun waktu 2009-2010.

(rna/fdn)