"Festival-festival yang ada menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia adalah negara yang plural dan tidak ada kekerasan," kata Charles Honoris, Ketua Panitia Karnaval Cap Gomeh di Glodok, Jakarta Barat. Charles yang juga anggota Komisi I DPR menyampaikan hal tersebut kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Senin (22/2/2016).
Di Glodok, karnaval Cap Go Meh digelar meriah Minggu (21/2) kemarin. Dimulai dengan pertunjukan oleh Koko Cici Jakarta lalu dilanjutkan dengan atraksi barongsai. Puncak acara, yaitu karnaval sepanjang 1 Km akan digelar pukul 15.00-17.30 mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah salah satu implementasi dari gerakan revolusi mental, juga sesuai dengan bhinneka tunggal ika. Semoga agenda ini bisa dilakukan terus-menerus," tutur Puan Maharani saat pembukaan Perayaan Cap Go Meh 2016, kemarin.
Di daerah lain, perayaan Cap Go Meh juga berlangsung meriah. Di Singkawang, Kalimantan Barat, ribuan warga disuguhi karnaval Tatung yang menampilkan orang yang trance, mirip dengan atraksi debus.
"Harmoni budaya dalam pluralisme tercipta dalam karnaval Tatung Cap Go Meh di Singkawang. Meleburkan sekat-sekat perbedaan suku, agama, dan ras, sebagai wujud dari ke Indonesiaan yang harus dipertahankan," kata Kapolda Kalbar Brigjen Arief Sulistyanto soal perayaan Cap Go Meh di Singkawang.
Di Yogyakarta, Cap Go Meh juga dirayakan dengan meriah, dengan digelarnya karnaval budaya Festival Naga sebagai puncak kegiatan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY). Jalan Malioboro ditutup total sejak Minggu (21/2/2016) pukul 18.00 WIB hingga karnaval selesai.
(tor/tor)











































