"Saya melihat Golkar ke depan banyak memberikan peluang-peluang untuk generasi muda. Ketika saya bergabung dengan Partai Golkar, saya merasa semua orang milihnya dulu itu Golkar. Nah pas 2008 lalu itu pilihannya agak sulit. Dengan pemikiran yang tepat saya menjatuhkan pilihan ke Golkar karena partainya demokratis," kata Meutya yang kini menjabat Wakil Ketua Komisi I DPR dari Golkar ini.
Hal ini disampaikan Meutya dalam diskusi 'Ke Mana Golkar Pergi?' di Bakoel Coffee di Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Minggu (21/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Partai ini harus menjadi partai yang modern. Peluang ini harus menjadi Golkar baru. Dulu pernah diwacanakan tahun 1998 lalu, sama seperti sekarang. Munas ke depan harus jadi menjadi momentum bagi Golkar untuk re-branding bukan saja namanya tapi juga organisasinya yang dapat lebih dekat dengan masyarakat. Partai modern," kata Meutya.
"Apa itu partai modern? Bukan orang-orang yang keluar pakai mobil-mobil baru, gadget baru tapi partai yang bisa menjawab isu-isu terkini. Kesadaran ini akan secara umum mengubah kebijakan-kebijakan. Kemudian harus transparan, dan terbuka terhadap pemikiran-pemikiran dalam masyarakat. Munas nanti harus demokratis bukan transaksional dan tak boleh ada intimidasi," imbuhnya.
Meutya ingin pemegang suara bisa memberikan suara tanpa adanya intimidasi dan harus ada transparansi. Perang ide dan gagasan juga bisa dilakukan di media-media dan lainnya.
"Kalau mengenai aturan, anak muda memberikan pandangan ke depan. Kalau didiskualifikasi bagi yang bermain di Munas biar senior-senior saja yang jawab. Saya bersyukur berada di partai yang sangat beragam. Kriteria Ketum Golkar selanjutnya, dia mampu menjadi jembatan komunikasi agar ke depan regenerasi berjalan dengan baik di Golkar kemudian juga harus mempunyai penyampaian dan perilaku baik ke media. Munas nanti harus jadi momen Golkar berbalik 180 derajat untuk bangkit," pungkasnya.
(van/fdn)











































