'Ganyang Malaysia, Selamatkan Siti Nurhaliza'
Kamis, 10 Mar 2005 14:50 WIB
Pekanbaru - Mahasiswa di Pekanbaru siap mendukung TNI dalam kasus sengkata Blok Ambalat. Karena itu mereka mengampanyekan 'Ganyang Malaysia.' Tapi, mereka meminta Siti Nurhaliza diselamatkan. Lho!Ada-ada saja tingkah mahasiswa kalau sedang demo. Lihat saja misalnya, sekitar 100 mahasiswa Universitas Riau (UNIRI) yang sedang melakukan aksi demo di luar pagar Konsulat Malaysia di Jl Pattimura, Pekanbaru. Mereka meminta Konsul Malaysia untuk menemui mereka dan mendengarkan aspirasi atas kasus Ambalat.Kendati mereka berteriak dengan menggunakan pengeras suara, namun Konsul Malaysia, Moh Nasri Bin Abdul Rahman, tidak kunjung menemui mahasiswa. Sedangkan pintu gerbang konsulat dijaga ketat sekitar 50 personel polisi. Karena sang konsul tidak bersedia menerima aspirasi mereka, akhirnya mahasiswa sepakat membuat adegan seolah-olah saat demo itu dihadiri Datuk dari utusan Malaysia. Maka munculah seorang mahasiswa berbadan kurus sebagai wujud dari utusan perdana Menteri Abdullah Badwi yang tengah menerima aspirasi mereka."Huk huk...," sang datuk itu berpura-pura batuk. Dalam orasinya, sang Datuk palsu dari Malaysia itu menjelaskan, pihaknya bermohon maaf atas kasus Ambalat. Pihaknya akan menyelesaikan lewat jalur diplomatik. Namun saat menawarkan jalur diplomatik, para mahasiwa menolaknya. "Datuk, kami tidak perlu jalur diplomatik, kita perang saja, karena datuk serakah ngambil hak kami," teriak mahasiswa.Sang Datuk itu pun kelihatan bingung ketika ditawari untuk perang. Dengan bahasa Melayu, datuk itu menyambut baik niat perang Indonesia itu. "Tapi saya pesan, silakan Ganyang Malaysia, tapi selamatkan Siti Nurhaliza ya. Trus jangan lupa, lagu-lagu P Ramli jangan diboikot di Indonesia," ujar sang Datuk. Gerrrr..... Suasana pun menjadi cair. Mahasiwa bersorak-sorak. "Siti Nurhaliza kita jadikan tawanan perang saja," teriak mahasiswa sembari tertawa lepas. Tak cuma mahasiswa, Polwan yang berada di barisan depan juga tersenyum melihat tingkah-tingkah mahasiswa ini. Usai bersandiwara, mahasiswa tetap membacakan aspirasinya atas kasus Ambalat. Dalam tuntutannya mahasiswa mengutuk tindak Malaysia yang telah mengklaim Ambalat sebagai wilayahnya. Mereka juga mengutuk keras penganiayaan militer Malaysia terhadap TKI yang tengah membangun mercusuar. "Kami juga meminta dunia internasional untuk tidak campur tangan dalam kasus Ambalat," teriak mahasiswa dalam membacakan tuntutannya.Mereka juga mendesak pemerintahan SBY untuk memutus hubungan diplomatik dengan Malaysia. "Kita juga meminta agar pemerintah Indonesia mengusut tuntas kasus penganiayaan militer Malaysia," kata mereka.Siaran Langsung di RRI Sekitar pukul 13.00 WIB, mereka meninggalkan Konsulat Malaysia. Ramai-ramai dengan berjalan kaki, mahasiswa mendatangi RRI di Jl Sudirman. Di sana, kembali lagi mahasiwa melakukan orasi yang sama mengutuk tindak Malaysia dalam kasus Ambalat. Mahasiswa mendesak agar mereka diberi kesempatan untuk melakukan siaran langsung.Setelah ada kesepakatan, akhirnya RRI Pekanbaru memberikan kesempatan kepada mahasiwa untuk melakukan siaran langsung. Isi siarannya juga menyerukan kepada masyarakat Indonesia untuk bersatu mengganyang Malaysia. Usai siaran dan berdoa di halaman RRI, sekitar pukul 14.00 WIB mereka membubarkan diri dengan tertib dikawal pihak kepolisian.
(asy/)











































