Hal itu diungkapkan Ganjar ketika menjenguk salah satu korban yang meninggal akibat DBD di Desa Wanadri RT2 RW1 , Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara. Korban tersebut adalah Habibi Akbar (12), siswa kelas VII SMP 3 Bawang, putra pasangan Ahmad Muzrr (45) dan Sri Hidayah (43). Ahmad mengatakan putra keduanya itu meninggal setelah lima hari terjangkit DBD.
"Terjangkitnya 5 hari. Tanggal 25 (Januari 2016) dibawa ke puskesmas, tanggal 27 ke RSI lalu ke RS Emanuel. Tanggal 29 meninggal dunia. Awalnya sempat panas lalu dingin," kata Ahmad kepada detikcom usai dikunjungi Ganjar, Kamis (18/2/2016) kemarin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kasusnya memang banyak, terindikasi di 2 RT ada 55 orang, yang rawat inap 52 dan yang rawat jalan ada 3," tandas Ahmad.
Kematian Habibi merupakan contoh dari bahayanya DBD apalagi pada musim penghujan sehingga menyebabkan banyak genangan air sebagai tempat berkembang biak jentik. Oleh sebab itu Ganjar mengajak warganya agar mau berperang melawan jentik.
"Maka saya ingatkan bulan ini semua berburu jentik, enggak ada ampun. Ini meninggal korbannya. Kadang kita lupa sudah membersihkan kolam tapi sekitar kita genangannya banyak. Harus ada Satgas pemburu jentik, kita harapkan sih setiap seminggu sekali bak itu dikuras, teman yang nampung air di bawah dispenser, kaleng-kaleng, dibersihkan," tandas Ganjar.
Antisipasi harus dimulai dari internal keluarga misalnya menerapkan piket menguras bak seminggu sekali. Kemudian perhatikan juga genangan air di tempat beraktifitas seperti sekolah atau kantor-kantor karena lokasi tersebut sangat berpotensi menjadi sarang nyamuk akibat bak tidak dikuras.
"Tidak hanya di rumah lho, kantor juga bahaya. Rata-rata nyamuk berterbangan jam 08.00 sampai 10.00, itu saatnya orang bekerja, kalau lingkungan buruk, maka potensial (terjangkit DBD). Maka saya buat surat edaran ke seluruhnya agar ditindak lanjuti agar gropyokan jentik jadi menyerbu jentik dari bawah. Buru sergap, tim buser jentik inilah penting didorong juga, perlu libatkan siswa-siswa juga," terang Ganjar.
Ia berharap imbauannya itu dilaksanakan oleh warganya sehingga Jawa Tengah bebas demam berdarah. Meski demikian satu Kabupaten yaitu Banyumas sudah menetapkan KLB untuk DBD.
"Ada yg sudah KLB, di sini (Banjarnegara) belum, Banyumas kalo tidak salah (KLB). Kemarin kita rakorkan, sampaikan ke aparatur, nah hari ini bisa saya sampaikan ke warga. Kalau disini berlanjut (pencegahan DBD) bisa jadi contoh," ucapnya.
Dalam kunjungannya ke Desa Wanadri itu, Ganjar juga memberikan imbauan langsung kepada puluhan warga yang mengerubutinya. Ia mengatakan agar warga melakukan langkah antisipasi berkembangnya jentik pembawa DBD.
"Ayo serbu jentik," tegasnya. (dra/dra)











































