Dalam pidato pembukaan, Zulkifli menyinggung soal mulai memudarnya jiwa persaudaraan dan wawasan kebangsaan di masyarakat saat ini.
"Saat ini jiwa persaudaraan dan roh kebangsaan sedikit demi sedikit mulai pudar," kata Zulkifli dalam pidatonya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Bupati dan sejumlah kepala daerah yang dia ajak diskusi selalu menjawab bahwa itu bukan tugas mereka. Pemerintah daerah juga tak ada anggaran untuk pendidikan wawasan kebangsaan.
"Bupati menjawab, ini bukan tugas kami untuk membangun wawasan kebangsaan. Dari daerah hingga pusat tak ada anggaran untuk itu. Akhirnya tugas itu diserahkan kepada MPR," kata Zulkifli.
Menurut Zulkifli MPR yang beranggotakan sekitar 600-an orang tentu tak bisa maksimal mengajarkan pendidikan wawasan kebangsaan. Untuk itu, kata Zulkifli, perlu keterlibatan semua pihak untuk mengajarkan pendidikan wawasan kebangsaan.
Apalagi saat ini Indonesia sudah memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Di era MEA tak hanya soal ekonomi, masyarakat di ASEAN juga terbuka untuk bersaing di bidang politik, keamanan, sosial dan budaya.
"Sosial budaya akan bertarung bebas. Jadi perlu wawasan kebangsaan untuk memperkuat persaudaraan," kata Zulkifli yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional itu.
Zulkifli sudah mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk kembali menghidupkan pendidikan wawasan kebangsaan. Tentunya disesuaikan dengan perkembangan dan kondisi zaman saat ini.
"Saya sudah usulkan ke Bapak Presiden untuk membangun wawasan kebangsaaan dengan disesuaikan perkembangan zaman saat ini," kata Zulkifli. (erd/tor)











































